Malang (beritajatim.com) – Tim pengabdian dosen dari Universitas Negeri Malang (UM) membuat mesin kue semprong otomatis oval automatic spray-bake. Mesin ini dirancang untuk memudahkan proses produksi kue semprong untuk pelaku UMKM Desa Wonorejo, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar.
Tim pengabdian dari UM yang terdiri atas Prof. Dr. Eddy Sutadji, M.Pd sebagai ketua tim, serta Dr. Widiyanti, M.Pd, Marsono, S.Pd.T., M.Pd, Ph.D, dan Andika Bagus N.R.P, S.Pd, M.Pd sebagai anggota. Andika Bagus, salah satu anggota menjelaskan bahwa mesin yang diberikan punya fitur penyemprotan dan pemanggangan otomatis.
“Pengabdian ini dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kami harap messi itu dapat meningkatkan efisiensi produksi dan konsistensi kualitas produk,” ujar Andika, Senin (1/6/2024).
Tim pengabdian juga bersama dengan mahasiswa Ivan Hidayat dan Fitriani, dan Asisten Riset (AR) Firdausi Ramadhan, S.Pd. Mereka berupaya untuk memberikan solusi dengan memperkenalkan inovasi teknologi dalam proses produksi kue semprong.
Program pengabdian kepada masyarakat berjudul “Eksekusi Inovasi Mesin Kue Semprong Oval Automatic Spray-Bake dalam Meningkatkan Kapasitas Produksi dan Kualitas Produk Olahan Berbahan Dasar Hasil Panen Wilayah pada UMKM di Ds. Wonorejo, Kec. Gandusari, Kab. Trenggalek”. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Wonorejo, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek, dengan melibatkan 15 peserta dari para pelaku UMKM setempat.
“Desa Wonorejo dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki potensi pertanian yang cukup besar. Namun, tantangan utama yang dihadapi oleh para petani adalah bagaimana mengolah hasil panen menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah dan dapat dipasarkan dengan baik,” ujarnya.
Berdasarkan realita tersebut maka dilakukan pengabdian selama tiga bulan, mulai dari Juni hingga Agustus 2024. Dimulai dengan persiapan melalui koordinasi intensif antara tim pengabdian dan pemerintah desa serta perwakilan UMKM di Desa Wonorejo.
“Tim melakukan pengadaan mesin, menyusun materi pelatihan, dan menjadwalkan kegiatan pelatihan yang melibatkan para peserta. Pelatihan ini diawali dengan sesi pengenalan mesin kue semprong oval automatic spray-bake, para peserta diberi penjelasan mengenai komponen mesin, cara pengoperasian, dan langkah perawatan,” ungkapnya.
Setelah sesi pengenalan, peserta mengikuti sesi praktik langsung di lapangan. Dalam sesi ini, setiap peserta diberikan kesempatan untuk mengoperasikan mesin, mulai dari persiapan adonan hingga proses penyemprotan dan pemanggangan otomatis.
“Dengan adanya sesi praktik ini, diharapkan para peserta dapat memahami cara kerja mesin secara mendalam dan mampu menggunakannya dengan baik dalam kegiatan produksi sehari-hari,” lanjut Andika.
Evaluasi dan umpan balik dilakukan pada akhir setiap sesi untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta serta kendala yang dihadapi selama pelatihan. Tim pengabdian mengumpulkan umpan balik ini untuk melakukan perbaikan dan penyesuaian pada sesi-sesi berikutnya.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa peserta merasa terbantu dengan adanya pelatihan ini dan memahami cara mengoperasikan mesin dengan baik. Penggunaan mesin kue semprong oval automatic spray-bake diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi UMKM di Desa Wonorejo.
“Dengan mesin ini, kapasitas produksi dapat ditingkatkan, waktu produksi menjadi lebih efisien, dan kualitas produk lebih terjaga. Dampak ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para pelaku UMKM di desa tersebut,” jelasnya.
Dijelaskan anggota tim pengabdian UM ini bahwa mesin kue semprong oval automatic spray-bake merupakan inovasi teknologi yang dirancang untuk mempermudah proses produksi. Mesin ini dilengkapi dengan sistem penyemprotan otomatis yang memastikan distribusi adonan secara merata, serta pengatur suhu otomatis yang menjaga konsistensi pemanggangan.
“Dengan fitur ini, mesin mampu meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi kue semprong secara signifikan,” paparnya.
Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini juga sangat penting. Ivan Hidayat dan Fitriani, dua mahasiswa yang terlibat dalam program ini, tidak hanya berperan sebagai peserta, tetapi juga membantu dalam penyusunan materi pelatihan dan pendampingan peserta lainnya.
Keterlibatan mereka memberikan pengalaman berharga dalam penerapan ilmu pengetahuan di lapangan dan mengembangkan kemampuan mereka dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Tantangan yang dihadapi selama pelaksanaan kegiatan antara lain keterbatasan pengetahuan awal peserta tentang teknologi mesin dan variasi kualitas bahan baku.
Namun, melalui pendekatan yang komprehensif dan pendampingan intensif, tantangan ini berhasil diatasi. Peserta pelatihan mampu mengoperasikan mesin dengan baik dan menghasilkan kue semprong yang memiliki kualitas lebih baik dibandingkan dengan metode konvensional.
Hasil dari kegiatan ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam kapasitas produksi dan kualitas produk UMKM di Desa Wonorejo. Peserta mampu mengoperasikan mesin dengan baik dan menghasilkan kue semprong yang memiliki kualitas lebih baik dibandingkan dengan metode konvensional.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa inovasi teknologi dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi pelaku UMKM di pedesaan. Tim pengabdian berkomitmen untuk melanjutkan pendampingan kepada UMKM di Desa Wonorejo.
Program lanjutan yang direncanakan meliputi pengembangan variasi produk, pemasaran digital, dan pelatihan manajemen usaha untuk memastikan keberlanjutan dan pengembangan usaha. Dukungan dan kerjasama dengan pemerintah desa serta pihak terkait diharapkan dapat terus berlanjut untuk mendukung program pengembangan masyarakat lainnya.
Kolaborasi dengan pemerintah desa menjadi faktor penting dalam kesuksesan program ini. Dukungan logistik dan fasilitas yang diberikan oleh pemerintah desa membantu memperlancar pelaksanaan kegiatan.
Kolaborasi ini diharapkan dapat berlanjut untuk program-program pengembangan masyarakat lainnya sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Desa Wonorejo dan sekitarnya. Para peserta memberikan testimoni positif mengenai program ini.
Mereka merasa terbantu dengan adanya pelatihan dan merasa lebih percaya diri dalam mengelola usaha mereka. Salah satu peserta, Joko, menyatakan bahwa mesin ini sangat membantu dalam meningkatkan efisiensi produksi dan kualitas produk.
Testimoni ini menunjukkan bahwa program pengabdian ini berhasil memberikan dampak positif bagi para pelaku UMKM. Tim pengabdian memiliki rencana untuk memperluas jangkauan program ini ke desa-desa lain di sekitar Trenggalek.
Dengan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan program ini dapat memberikan manfaat yang lebih luas dan berkelanjutan. Pengembangan program ini menjadi salah satu upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah Trenggalek.
Diharapkan pada program pengabdian ini inovasi teknologi mesin kue semprong oval automatic spray-bake berhasil meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk UMKM di Desa Wonorejo. Keberhasilan ini menunjukkan pentingnya kolaborasi.
“Ini menunjukkan pentingnya kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku UMKM dalam mendukung pengembangan ekonomi lokal. Program ini juga menjadi contoh nyata bagaimana teknologi dapat diterapkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tutup Andika. [dan/beq]






