Ringkasan Berita:
- Ribuan jemaah haji Indonesia dari 17 kloter mendarat di Bandara Madinah pada hari kedua operasional, Kamis, 23 April 2026.
- Jemaah asal Jawa Timur melalui Embarkasi Surabaya (SUB) mendominasi arus kedatangan sore hingga malam hari dengan tiga jadwal penerbangan utama.
- Sistem pengelompokan berbasis rombongan sejak dari tanah air menjadi kunci utama percepatan mobilisasi jemaah menuju hotel di Madinah.
- Petugas PPIH membatasi kapasitas bus maksimal 40 orang guna memudahkan pengawasan dan memastikan ketepatan data pada sistem Nusuk.
- Jemaah diimbau tetap disiplin membawa Kartu Nusuk dan mewaspadai cuaca panas saat memulai program ibadah Arbain di Masjid Nabawi.
Madinah (beritajatim.com) – Gelombang kedatangan jemaah haji Indonesia di Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdulaziz, Madinah, terus meningkat tajam pada hari kedua operasional, Kamis (23/4/2026), dengan keterlibatan signifikan jemaah asal Jawa Timur. Hingga menjelang malam, tercatat sebanyak 17 kloter dengan total 6.737 jemaah telah mendarat, di mana rombongan dari Embarkasi Surabaya (SUB) menjadi salah satu pilar utama dalam arus kedatangan gelombang pertama ini.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Haji Center (MHC) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, jemaah asal Jawa Timur yang mendarat pada hari kedua ini dilayani oleh maskapai Saudia Airlines melalui penerbangan SV-5343, SV-5337, serta SV-5453 sebagai penerbangan penutup hari tersebut. Kesigapan petugas dalam menyambut tamu Allah dari Bumi Majapahit ini memastikan proses transisi dari terminal kedatangan menuju bus berjalan tanpa hambatan berarti.
Kepala Daerah Kerja (Daker) Bandara PPIH Arab Saudi, Abdul Basir, menegaskan bahwa keberhasilan mobilisasi ribuan jemaah ini sangat bergantung pada konsistensi sistem rombongan yang sudah dibentuk sejak di tanah air. “Kalau sejak awal rombongan sudah tertata, maka saat turun pesawat, keluar gate, hingga naik bus akan lebih tertib dan cepat,” ujar Basir saat memantau pergerakan jemaah di bandara.
Fokus Layanan Rombongan dan Akurasi Data
Dalam operasional tahun ini, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI menerapkan kebijakan ketat terkait pengelompokan jemaah. Peran Ketua Rombongan (Karom) dan Ketua Regu (Karu) diperkuat untuk memastikan jemaah tetap berada dalam kelompoknya masing-masing, terutama bagi lansia dan pengguna kursi roda yang membutuhkan perhatian khusus.
Sistem ini didukung oleh pembatasan kapasitas transportasi darat, di mana setiap bus hanya diisi maksimal 40 jemaah. Kebijakan ini bertujuan untuk menyinkronkan data fisik jemaah dengan sistem digital Nusuk serta memudahkan koordinasi dengan pihak syarikah saat jemaah tiba di hotel-hotel wilayah Madinah.
“Pentingnya tetap dalam rombongan agar saat pembagian kamar hotel dan distribusi katering tidak terjadi kebingungan. Semua data sudah terintegrasi,” tambah Basir.
Kesiapan Ibadah dan Kewaspadaan Cuaca
Jemaah yang baru tiba, termasuk ribuan warga Jawa Timur, akan langsung menempati hotel-hotel strategis yang telah disiapkan di Madinah untuk menjalani ibadah Arbain selama sembilan hari. Mengingat cuaca di Madinah yang cukup terik dengan suhu mencapai 38-39 derajat Celsius, jemaah diingatkan untuk segera melakukan penyesuaian fisik dan rutin mengonsumsi air mineral guna mencegah dehidrasi.
Selain faktor kesehatan, kedisiplinan dokumen juga menjadi sorotan utama. Petugas keamanan Arab Saudi mulai intensif melakukan pemeriksaan acak (random checking) di kawasan Masjid Nabawi. Oleh karena itu, jemaah asal Embarkasi Surabaya diimbau untuk selalu membawa Kartu Nusuk yang telah diaktivasi sejak di embarkasi sebagai syarat akses utama ibadah dan perlindungan diri selama di Tanah Suci.
Integrasi layanan mulai dari bandara hingga hotel dipastikan berjalan 24 jam. Dengan kedatangan total 6.737 jemaah pada hari kedua ini, PPIH Arab Saudi terus mematangkan koordinasi guna menyambut kedatangan kloter-kloter berikutnya yang dijadwalkan akan semakin padat dalam beberapa hari ke depan. [ian/beq]






