Malang (beritajatim.com) – Mahasiswa Program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Suyatno, berhasil menemukan final stock ayam kampung petelur super. Ia mengklaim ini ayam petelur supernya mampu menghasilkan telur lebih dari 60% HDP atau Hand Day Production.
“Jadi kalau ada ayam 100 yang bertelur 80 itu mencapai 80%, ini mampu 60%. Kalau ayam kampung biasa 40% saja kurang,” kata Suyatno setelah seminar hasil penelitian untuk disertasi, Selasa (21/5/2024) di GKB IV lantai 3 UMM.
Ir. Suyatno, M.Si., menilai bahwa Indonesia selama ini selalu mendatangkan bibit dari luar negeri untuk ayam ras, petelur maupun daging. Padahal, Indonesia juga memiliki sumber bibit yang luar biasa berupa ayam kampung.
“Ayam petelur selama ini kalau dijual itu per kilo kalau produk saya dalam bentuk butiran. Orang Indonesia suka telur ayam kampung. Kita punya plasma nutfah yang banyak dan tidak termanfaatkan. Kita bisa hasilkan ayam kampung super yang mampu produksi telur banyak seperti ayam ras,” ujar dosen Peternakan UMM ini.
Oleh karena itu, pihaknya mencoba empat jenis ayam kampung, ada ayam kampung putih, merah ayam wareng, dan ayam dari Bromo Tengger Semeru atau ayam Ranupani. Keempatnya disilangkan dengan banyak persilangan dan akhirnya temukan yang paling bagus.
“Kami temukan hanya 2 ekor yang paling bagus atau final stock, kami berinama UMM chick petelur. Namun, produk ini belum kita patenkan. Saran dari penguji, diminta menyumbang ilmu saja untuk masyarakat jadi mungkin saja tidak dipatenkan karena jalan ini juga sudah gampang untuk ditiru,” tuturnya.
Penelitian disertasi Suyanto telah dimulai sejak tahun 2019 lalu. Prosesnya seleksi ayam petelur super dimulai dari kakek buyut, kemudian kakek nenek, ayah ibu, sampai ke final stock.
“Istilahnya kita mulai dari dari great grand parent stock, kita seleksi ditemukan grand parent stock, diseleksi lagi jadi parent stock, sampai akhirnya final stock ya ayam ini. Ini saya katakan juga dikatakan penguji, ayam ini satu satunya di muka bumi, ayam kampung petelur super dengan jalan yang kami miliki,” tegasnya.
Disebut ayam kampung petelur super karena dilihat dari kuantitas telur. Suyanto menyebut, disertasi berfokus pada produksi telur saja karena proyeksinya tidak bisa serempak. Jika seleksi dilakukan bersamaan, misalnya meningkatkan telur dan berat badan maka itu justru menjadi tidak fokus.
“Penelitian itu harus fokus, tahap sekarang produksi telur dulu. Setelah benar benar selesai, bisa ke seleksi lain untuk meningkatkan berat telur misal,” jelasnya.
Menariknya, ayam kampung petelur super ini bertelur tanpa pejantan dan bisa bertelur setiap hari. Keunggulan itu membuatnya seperti ayam ras itu karena tanpa pejantan.
“Istilahnya ini ayam untuk komersial tapi yang versi kampung. Ditiru masyarakat juga mudah, karena ibaratnya ada 28 jalur perkawinan ini tinggal 10 jalan yang sudah pas pasti hasilnya seperti ini. Akhirnya malah bisa tanpa pejantan, final stock yang saya temukan ini,”
Dari segi telur yang dihasilkan ayam kampung petelur super masih sangat khas ayam kampung. Dengan warna putih kecoklatan dan bentuk yang khas. Suyatno menyebut, telur ayam berwarna sangat putih itu dihasilkan ayam arab yang berbeda dengan ayam kampung.
“Jadi yang kita tingkatkan kuantitas telurnya yang masih belum kualitasnya. Ukuran terakhir bahkan ada yang bertelur sampai 76%. Skala nya memang belum skala perusahaan, tapi yang jelas kami sudah jual produk telurnya, untuk bibit ayamnya belum berani kami jual,”

Selain itu, dosen UMM ini juga menjual produk lain berupa telur ayam afkir. Ia juga ayam jantan karena ayam petelurnya bisa tanpa pejantan.
Melalui disertasi ini pihaknya berharap dapat meningkat dari segi ekonomi jika nanti banyak masyarakat yang mengaplikasikan. Ia menilai, produk ini juga dapat meningkatkan pendapat karena telur dijual per butir bukan dalam bentuk per kilo.
“Ayam kampung itu keuntungannya dengan pemeliharaan yang jelek atau biasa saja pakan yang biasa, mampu berproduksi telur yang baik. Kalau ayam ras tidak bisa begitu, harus diberi makan yang bagus untuk menghasilkan telur yang bagus,” tutup Suyanto di hadapan awak media.
Sebagai informasi, seminar hasil penelitian untuk disertasi Suyatno berjudul ‘Pembentukan strain baru final stock ayam kampung petelur super dari empat tetua ayam kampung melalui seleksi dan pengaturan jalur perkawinan,’. Promotor disertasinya adalah Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes.
Turut hadir juga Ko-Promotor I, Prof. Dr. Ir. Aris Winaya, M.M., M.Si. IPU. ASEAN Eng. Kemudian Ko-Promotor II Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, MS. Adapun Tim Penguji 1 Assc. Prof. Dr. Ir. Abdul Malik, MP. Penguji 2, Assc. Prof. Dr. Ir. Asmah Hidayati, M.P. IPM. Kemudian penguji 3 Assc. Prof. Dr. lin Hindun, M.Kes. [dan/but]






