Blitar (beritajatim.com) – Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar, Adi Andaka meminta agar korban bullying atau perundungan yang terjadi Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar untuk mencabut laporan polisinya. Alasannya karena kasus ini sudah terjadi lama dan telah berakhir damai secara kekeluargaan.
“Kita juga komunikasi dengan PPA dan teman-teman PPKB kita juga saling komunikasi untuk pendampingan. Yang jelas kita selalu komunikasi mudah-mudahan tidak berlanjut lah seperti itu (proses hukumnya),” ungkap Adi Andaka di sebuah talk show radio swasta di Kota Blitar, Jumat (14/03/2025).
Diketahui kasus bullying ini melibatkan para siswa yang tengah duduk di bangku SMP Negeri Kabupaten Blitar. Korbannya merupakan seorang siswi SMP dan 3 pelakunya adalah juga pelajar SMP Negeri.
Korban sendiri mengalami bullying secara verbal dan non verbal. Kejadian ini dipicu karena korban memfollow dan like postingan pacar salah satu pelaku. Tidak terima dengan hal itu korban akhirnya mendapatkan perundungan dan pengeroyokan.
Awalnya korban tidak melaporkan kasus tersebut. Namun usai video bullying itu viral, korban akhirnya melaporkan kasus tersebut ke polisi.
“Ya harapannya begitu (dicabut), sebenarnya komunikasi sudah tidak masalah ini kami selalu monitor melalui kepala sekolahnya dan guru BK, si korban maupun si pelaku dan kedua orang tuanya juga terus berkomunikasi,” imbuhnya.
Korban bullying sendiri telah melaporkan kasus perundungan yang menimpanya ke Polres Blitar Kota beberapa waktu lalu. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa korban AW (14) mengalami luka di bagian kepala dan perut.
Kasi Humas Polres Blitar Kota, Iptu Samsul Anwar membenarkan kejadian bullying tersebut. Menurut Samsul, awalnya korban tidak mau melaporkan karena ketakutan kini setelah video pengeroyokan terhadap dirinya viral, remaja 14 tahun itu akhirnya resmi mengajukan laporan polisi.
“Kejadian ini sebenarnya sudah lama, terjadi pada 27 Februari 2025 lalu. Namun korban yang berinisial AW (14 tahun) tidak berani melaporkan kejadian tersebut kepada orang tuanya. Iya korban dan orang tuanya sudah melapor ke pihak kepolisian. Pada saat kejadian, korban mengaku takut untuk melapor. Namun sekarang viral dan akhirnya melaporkan perlakuan yang diterimanya itu,” ungkap Samsul, Minggu (9/03/2025).
Diduga para pelaku ini sudah merencanakan aksinya. Pasalnya sebelum kejadian korban terlebih dahulu dijemput oleh ke 3 pelaku dengan menggunakan kendaraan bermotor. Kemudian korban diajak pergi ke suatu lokasi dengan berboncengan empat. Setelah itu barulah korban dipukuli secara beramai-ramai hingga mengalami luka di kepala dan perut.
“Nah di lokasi pertama ini korban sudah mengalami pembullyan, namun ada orang yang melihat dan meminta untuk dihentikan. Kemudian pelaku membawa korban ke tempat lain dan terjadilah kasus bullying tersebut,” ungkapannya. (owi/ian)






