Malang (beritajatim.com) – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jawa Timur (Jatim) menggelar Cerdas Digital (Cerdig). Kali ini Cerdig digelar di gedung Malang Creative Centre (MCC) Kota Malang pada Selasa, (5/8/2025).
Dua tokoh menjadi narasumber dalam Cerdig kali ini. Mereka adalah Dadik Wahyu Chang seorang pengusaha di dunia industri kreatif di Kota Malang. Serta jurnalis senior sekaligus Mantan Ketua AMSI (Asosiasi Media Siber Indonesia) Wenseslaus Manggut.
Dalam Cerdig kali ini peserta berasal dari pengelola akun media sosial pemerintah daerah. Mulai dari Pemerintah Kota atau Kabupaten, DPRD Provinsi dan Kota atau Kabupaten. Juga Kelompok Informasi Masyarakat atau KIM.
Dadik dalam paparannya meminta pengelola akun media sosial pemerintahan harus membuat pondasi brand sebelum menginformasikan pada publik. Tujuannya agar konten yang dibuat lebih menarik dan mampu meningkatkan kunjungan akun media sosial.
“Jadi supaya tidak fokus hanya sekadar menyampaikan kepada publik informasi melalui sosial media tapi punya identitas dulu. Identitasnya apa dan mau disasar ke siapa sehingga akan bisa mendapatkan eksposur lebih tepat sasaran gitu,” ujar Dadik.

Dadik mengatakan, pengelolaan media sosial seperti fasilitator. Konten yang diproduksi tetap memuat informasi penting dan sumber resmi. Namun, pengelolalaanya tidak boleh kaku. Admin atau pengelola medsos harus lebih dekat bahkan memperlakukan audiens atau netzien seperti teman.
“Masih sebatas menyampaikan informasi atau ini aku, perkenalkan ini aku. Jauh dari harapan itu sebenarnya media ini untuk semacam istilahnya kayak fasilitator untuk kita memperkenalkan. Jadi bukan hanya sekadar menginformasikan tapi ini sebagai kanal pertemanan. Selama ini saya lihat hanya sekedar promosi,” ujar Dadik.
Pengelolaan akun media sosial tidak boleh dikelola secara serampangan. Sebab, di era digital saat ini wajah akun media sosial menjadi representasi. Masyarakat akan tertarik mengikuti akun media sosial jika memang memberikan informasi penting namun juga bisa merasa dekat saat berinteraksi di kolom komentar atau yang lainnya.
“Ya harapannya lebih mengenal lagi tentang calon customernya atau audiensnya. Bahwa bukan hanya sekadar informasi saja tapi sebenarnya adalah bagaimana cara mendekatkan kita ke masyarakat biasa kepada pemerintah. Hal-hal yang sangat related sebagai pertemanan itu seperti apa, itu harus dilakukan,” kata Dadik.
Sementara Wenseslaus Manggut atau Kak Wens menyebut tayangan di akun media sosial pemerintahan seharusnya tidak hanya soal kegiatan harian kepala daerah. Hal itu dinilai monoton dan tidak menarik minat netizen untuk berselancar lebih jauh di media sosial.
Sebaliknya, akun media sosial pemerintahan bisa mengunggah sejumlah program atau kegiatan yang sifatnya diminati oleh publik. Sehingga tidak hanya sekadar informasi, namun juga mendapatkan edukasi tentang program dan kegiatan pemerintah.
“Memang informasi harus update setiap hari. Tapi harus disusun dengan baik. Misalkan mana konten yang harus diproduksi setiap Minggu dan harus disampaikan ke masyarakat. Harus di kemas dan di medium mana itu juga penting. Mulai teks, audio dan visul termasuk komentar dari masyarakat,” kata Kak Wens. (luc/but)






