Ponorogo (beritajatim.com) – Usai kegiatan pawai 10.000 obor dalam peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2022 pada Kamis (20/10) malam selesai, ribuan santri dan masyarakat langsung tumpek blek di alun-alun Ponorogo.
Kegiatan dilanjut pengajian akbar dengan menghadirkan pembicara dari tokoh Nahdlatul Ulama KH. K.H. Ahmad Muwafiq atau lebih dikenal dengan sebutan Kyai Muwafiq atau Gus Muwafiq.
Dalam tausiyahnya, Gus Muwafiq yang berasal dari Sleman Yogyakarta itu menyampaikan sejarah masuknya agama Islam dari negara Arab hingga sampai ke tanah Jawa. Waliyullah yang menyebarkan Islam pertama di tanah Jawa adalah Syaikh Jumadil Kubro.
Kemudian Islam disebarluaskan oleh para keturunan Syaikh Jumadil Kubro, yang juga anggota dari Walisongo, yakni Sunan Ampel, dan Sunan Bonang.
“Saat Islam masuk ke nusantara, disini sudah punya peradaban. Para wali datang untuk menyebarkan agama Islam juga berfikir bagaimana bangsa di nusantara juga tetap rukun sebab sudah memiliki bhineka tunggal ika. Sehingga wali memutar otak supaya Islam hadir tidak untuk memecah belah, orang yang beda suku, atapun beda agama tetap rukun,” ungkap Gus Muwafiq.
Dalam kesempatan itu, Gus Muwafiq juga menceritakan bahwa para santri juga ikut dalam proses kemerdekaan Republik Indonesia. Bahkan adanya peringatan HSN ini, punya sejarah bahwa santri mengambil sikap untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajah. Sikap itu ditandatangani pada tanggal 22 Oktober yang disebut sebagai Resolusi Jihad. Dengan resolusi itu ribuan santri ke Surabaya untuk mempertahankan kedaulatan dari tangan penjajah. Peperangan pecah pada tanggal 10 November 1945.
“Makanya tanggal 10 November diperingati sebagai hari pahlawan, sedangkan tanggal 22 Oktober diperingati sebagai hari santri terkait lahirnya Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”gus-muwaqih”]
Untuk diketahui, sebelum acara tausiyah Gus Muwafiq juga diadakan kegiatan pawai 10.000 obor. Ribuan santri dan masyarakat membawa obor melewati jalan-jalan protokol di bumi reog, dan bermuara jadi satu di alun-alun Ponorogo. Cahaya dari api obor memaknakan bahwa santri siap untuk mengabdi dikehidupan berbangsa dan bernegara.
“Kita mengajak para generasi muda untuk meneladani spirit para santri pendahulu,” kata Bupati Sugiri Sancoko.
Menurut Kang Giri sapaan Bupati Sugiri Sancoko menyebut bahwa santri merupakan salah satu sumbu pilar pengisi kemerdekaan. Kabupaten Ponorogo juga terkenal dengan kota santri dan budaya. Ia meyakini dua-duanya bisa berjalan seiring punya kultur dan pakemnya masing-masing.
“Inilah Ponorogo, kota santri dan budaya. Santri dan budaya merupakan milik kita bersama,” katanya.
Pondok Pesantren (Ponpes) ibaratnya menjadi kawah candradimuka untuk mencetak santri yang berkualitas jempolan dan berakhlak mulia. Santri juga dibekali berbagai keterampilan lain untuk turut berkontribusi dalam berbagai bidang pembangunan. Dia menghimbau supaya ponpes yang memilik peran yang penting untuk mencetak generasi yang berkualitas itu, tidak boleh dikotori dengan tindak kekerasan.
“Pesantren mencetak anak menjadi santri yang jos dan berakhlak mulia. Jangan sampai ada kekerasan dalam bentuk apapun. Saling mengingatkan dan memberi edukasi,” katanya.
Rangkaian kegiatan jelang peringatan HSN 2022 ini , juga turun menumbuhkan perekonomian. Dengan intruksi sarungan selama 9 hari jelang puncak HSN yang jatuh tanggal 22 Oktober, juga berefek pada ramainya toko sarung di Ponorogo.
“Setiap kegiatan mempunyai efek domino yang positif. Perekonomian bisa tumbuh. Toko sarung hari-hari ini laris,” pungkasnya. (End/ted)






