Mojokerto (beritajatim.com) – Puluhan warga Desa Leminggir, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto melakukan aksi demo di warung-warung yang ada di sepanjang tepi Waduk Long Storage Kalimati sisi utara, Sabtu (31/1/2026).
Tepatnya di Desa Mergobener Kecamatan Tarik dan Desa Prambon, Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo.
Terdapat puluhan warung berada di sepanjang tepi Waduk Long Storage Kalimati tersebut. Beberapa diantaranya diduga menjual minuman keras (miras) dan menyediakan Pekerja Seks Komersial (PSK). Warga Desa Leminggir terdampak langsung dari aktivitas warung-warung tersebut lantaran suara musik yang keras saat malam hari.
Aksi warga tersebut merupakan puncak lantaran sebelumnya pihak Pemerintah Desa (Pemdes) Leminggir juga sudah menyampaikan keberatan terkait adanya aktivitas warung-warung tersebut dengan melayangkan surat keberatan. Baik ke pihak desa muapun pemilik warung. Meski dari puluhan warung yang ada, tidak semua yang menyediakan miras maupun PSK.
Kepala Desa (Kades) Leminggir, Khusaeni membenarkan, warganya menggelar aksi demo dengan mendatangi warung-warung tersebut dengan tuntutan agar tutup. “Iya benar, itu warga saya. Itu wilayab Sidoarjo tapi mempet wilayah kita. Wilayah Leminggir,” ungkapnya, Minggu (1/2/2026).
Yakni Desa Mergobener Kecamatan Tarik dan Desa Prambon, Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo. Masih kata Kades, ia bersama Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Mojosari turut mengawal warga. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
“Saya mengawal warga saya yang melaksanakan aksi keberatan adanya warung-warung itu. Kalau saya tidak ikut mengawal, malah bahaya. Saya bersama Pak Kapolsek dan Muspika Kecamatan Mojosari. Alasannya, karena warungnya itu terindikasi dan banyak saksi yang mengatakan ada hal negatif, ada cewek-cewek,” ujarnya.
Kades menjelaskan, diduga keberatan warung-warung tersebut sudah berdiri sejak empat tahun lalu. Menurutnya, awalnya warga Desa Leminggir keberatan dengan musik yang diputar cukup keras saat malam hari dari warung-warung tersebut. Keberadaan warung-warung tersebut berjalan 100 meter dari pemukiman warga.
“Kalau malam, karaoke suaranya keras. Warga keberatan karena melebihi jam 11 malam dan warung-warung itu buka setiap hari. Iya kemarin kita kesana hujan-hujan. Kita persuasif, ke utara bolak-balik. Kita surati pihak desa dan kita kirim surat teguran. Kemarin sebelum ke sana, saya juga menghubungi pihak desa sana,” ujarnya.
Kedatangan warga tersebut lantaran jelang bulan suci Ramadhan, warga berharap warung-warung tersebut tutup. Kades mengaku, ada warga Desa Leminggir yang juga mendirikan warung di sisi utara Waduk Long Storage Kalimati, namun hanya berjualan kopi. Sementara, di sisi selatan Waduk Long Storage Kalimati yang banyak warga Desa Leminggir.
“Ada yang jualan di sisi utara tapi jualan biasa-biasanya saja, jualan kopi tapi yang selatan itu memang banyak warga saya. Tidak ada yang jualan miras karena sejak awal tidak diperkenalkan. Iya kita ke sana kemarin, banyak warung-warung yang ada aktivitas. Ada cewek-cewek, ada minuman-minuman. Banyak yang kabur pas kita datang,” tegasnya. [tin/ted]






