Surabaya (beritajatim.com) – Bayang-bayang krisis logistik global kembali menghantui seiring memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Potensi penutupan Teluk Hormuz, yang merupakan jalur urat nadi bagi 20 persen distribusi minyak mentah dunia, kini memicu kekhawatiran akan lonjakan biaya energi dan transportasi internasional. Namun, di tengah ketidakpastian tersebut, Bogasari Flour Mills memastikan pasokan bahan baku tetap terjaga dan harga terigu di pasar domestik tetap stabil.
Vice President Marketing Bogasari Wilayah Indonesia Timur, Yulius Ronadi, dalam keterangannya di Surabaya pada Rabu (4/3/2026) malam menjelaskan bahwa gangguan di Teluk Hormuz memang akan memberikan efek domino pada kenaikan harga bahan bakar minyak global.
Hal ini secara otomatis akan memengaruhi struktur biaya transportasi dan logistik internasional. Namun, Yulius menegaskan bahwa Bogasari memiliki posisi yang cukup aman karena sumber bahan baku gandum mereka tidak berasal dari kawasan konflik tersebut.
Kekuatan Bogasari terletak pada strategi diversifikasi sumber impor yang menjangkau Amerika, Kanada, hingga Australia. Saat ini, sekitar 40 persen kebutuhan gandum perusahaan didatangkan dari Australia karena pertimbangan jarak geografis yang lebih dekat dengan Indonesia. Kedekatan ini menjadi kunci utama dalam menjaga kelancaran rantai pasok, sehingga pengiriman bahan baku relatif tidak terpengaruh oleh kericuhan di jalur pelayaran Timur Tengah.
Meski demikian, Yulius tetap mewaspadai potensi efek lanjutan jika kapal-kapal pengangkut global harus memutar rute pelayaran. Perubahan rute ini berisiko memicu kelangkaan kontainer kosong karena waktu tempuh yang menjadi lebih panjang. Namun, untuk saat ini, stok terigu di gudang-gudang Bogasari diklaim dalam kondisi yang sangat mencukupi, bahkan perusahaan berkomitmen untuk tidak menaikkan harga jual demi menjaga stabilitas pasar dalam negeri.
Optimisme Bogasari untuk tahun 2026 juga didorong oleh performa solid pada tahun sebelumnya. Sepanjang tahun 2025, wilayah Indonesia Timur mencatatkan pertumbuhan penjualan mencapai 8 persen. Keberhasilan ini didominasi oleh merek-merek legendaris seperti Segitiga Biru dan Cakra Kembar, di mana segmen UMKM masih menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi mencapai 65 persen dari total penjualan.
Menatap tahun 2026, Bogasari memilih langkah yang lebih konservatif namun tetap positif dengan membidik target pertumbuhan di angka 5,4 persen. Angka ini disusun dengan mempertimbangkan dinamika global yang fluktuatif serta potensi kenaikan biaya operasional. Dengan ketergantungan pasar ekspor ke Timur Tengah yang nihil dan permintaan domestik yang tetap kuat, Bogasari optimis dapat melewati tantangan tahun ini tanpa guncangan berarti bagi konsumen akhir.
Langkah Bogasari ini menjadi bukti pentingnya ketahanan industri pangan nasional. Di saat energi dunia terancam oleh konflik di Teluk Hormuz, diversifikasi sumber daya dan fokus pada pasar domestik menjadi pelindung yang krusial bagi stabilitas ekonomi masyarakat, terutama dalam memastikan ketersediaan bahan pangan pokok menjelang periode konsumsi tinggi di tanah air.[rea]






