Banyuwangi (beritajatim.com) – Harga cabai rawit di Banyuwangi saat ini mencapai Rp 51 ribu Perkilogram. Kondisi ini memang bukan harga stabil namun cenderung fluktuatif.
Bahkan, setiap hari harga cabai rawit justru acapkali tak menentu dan berubah setiap saat. Namun, dengan kondisi ini warga khususnya petani mengaku cukup senang.
“Alhamdulillah, hari ini mendapat 50 kilogram,” ungkap Nur Yanto, warga Desa Purwoasri, Kecamatan Tegaldlimo, Selasa (31/1/2023).
Nut Yanto menyebut, tanaman cabainya setengah hektar yang ditanam 3 bulan lalu itu kini telah menuai panen. Meskipun, hasilnya belum banyak karena dinilai masih tahap awal buah.
“Biasanya bulan ke empat itu udah mulai banyak panennya. Tapi tantangannya memang berat, selain cuaca, hama juga kerap menyerang,” ujarnya.
Antisipasinya, petani jelas tak henti untuk melakukan penyemprotan pestisida secara berkala. Mengikuti jenis hama yang menyerang.
“Petani harus jeli melihat kondisi alam sekitar untuk antisipasi gejala yang akan menyerang. Kemudian, juga harus jeli soal hama. Kalau panas itu apa, kalau musim hujan itu apa? Begitu,” katanya.
Secara khusus, kata Nur Yanto, saat ini karena cuaca kerap berganti biasanya ada jamur, penyakit cacar dan serangan serangga.
“Kalau cuaca begini jangan tinggalkan obat jenis fungisida dan antisipasi insektisida. Karena biasanya ada lalat buah dan walang sangit,” terangnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”harga-cabe-rawit”]
Beda halnya dengan Slamet, warga Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo yang mengaku kesulitan untuk memulai musim tanam. Padahal, dirinya dan petani lain juga ingin andil merebut harga cabai rawit yang semakin naik ini.
“Saat ini untuk mencari hidup saja (cabai rawit) sulit sekali. Baru ditanam, paling dua hari udah mati lagi. Kendalanya cuaca kerap berubah, kadang siang panas, sore hujan,” ungkapnya.
Meski demikian, para petani termasuk Slamet juga tak patah arang. Mereka tetap berusaha mengambil kesempatan saat harga cabai rawit sedang tinggi. (rin/ted)






