Surabaya (beritajatim.com) — Di tengah gegap gempita konser Westlife yang menyedot ribuan penonton di Surabaya, Minggu (8/2/2026) lalu, ada satu sudut cerita menarik yang luput dari sorotan panggung utama. Bukan tentang Shane, Nicky, atau Kian, melainkan tentang seorang pria lokal yang jeli membaca peluang dan setia menekuni jalur kreatif: Deddy Eryanzah, atau yang akrab disapa Deddy.
Saat antusiasme Westlifer memuncak, Deddy tampak sibuk menawarkan berbagai aksesoris bertema Westlife. Dari stiker mungil hingga kaos eksklusif, dari kipas hingga bando dengan logo dan gambar personel band legendaris asal Irlandia itu. Baginya, konser bukan sekadar hiburan, tetapi ruang hidup bagi kreativitas dan keberanian mengambil peluang
Deddy, pria 32 tahun asli Surabaya, bukan wajah baru dalam dunia aksesoris perkonseran. Ia sudah menekuni usaha ini sejak 2013 hingga 2018, lalu kembali aktif sejak 2023 hingga sekarang.
Di luar aktivitas berjualan, kesehariannya diisi dengan ngeband, menjadi freelancer graphic designer, serta pengalaman masa lalu sebagai costume dan prop maker cosplay. Kombinasi inilah yang kemudian menumbuhkan kreativitasnya dalam mencari peluang dalam sebuah event.
“Sebagian besar saya produksi sendiri,” ujar pria yang juga akrab disapa Reiben ini.
Tak heran jika margin keuntungan yang ia dapatkan saat konser Westlife kemarin bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat dari modal awal. Menurut pengakuannya, persiapan produksi sendiri memakan waktu sekitar satu minggu, mulai dari desain hingga barang siap jual.
Produk yang ia bawa pun beragam, mulai dari stiker, lightstick, T-shirt, bando, dan kipas. Soal harga, Deddy menyasar semua kalangan. Stiker dibanderol mulai Rp2.500 per pcs, sementara produk termahal adalah T-shirt seharga Rp120.000 per pcs.
Menariknya, meski jumlah peminat aksesoris Westlife tidak sebanyak penggemar JKT48, Feast, atau Hindia, Deddy menilai daya beli Westlifer justru lebih kuat. “Kalau soal spend duit, jelas lebih banyak fans Westlife,” ujarnya.
Data penjualannya membuktikan hal tersebut. Kipas dan T-shirt menjadi primadona. Dari satu lusin kipas yang dibawa, semuanya ludes bahkan masih banyak dicari. Lima kaos Westlife yang ia siapkan pun habis terjual. Sebaliknya, stiker justru menjadi produk yang dianggapnya paling sepi peminat—hanya enam buah yang terjual.
Selain aksesoris tersebut, Deddy juga kerap menjual produk jenis lainnya, seperti poster, pin, gantungan kunci pin, gantungan kunci akrilik, lanyard, cardholder custom, tumbler, mug, dan cover album foto, yang disesuaikan dengan peluang pasar.
Di balik riuh rendah euforia konser, Deddy menunjukkan bahwa ekonomi kreatif bisa tumbuh dari mana saja. Dari trotoar, dari antrean penonton, dari tangan-tangan kreatif yang tak pernah berhenti berkarya. (fyi/aje)







1 Komentar
Suaangaarr deddy…