Jakarta (beritajatim.com) – Ketua Dewan Pers Ninik Rahayu mengajak pemerintah dan seluruh pihak untuk mendukung keberlanjutan industri media di Indonesia yang sedang menghadapi masa sulit. Dalam satu tahun terakhir, media di Indonesia mengalami tantangan berat akibat disrupsi teknologi yang memaksa banyak media cetak gulung tikar dan beralih ke digital.
Tren penurunan pengunjung website dan aplikasi media berbasis berita, serta menurunnya pendapatan, turut memperparah kondisi ini. Beberapa perusahaan media bahkan terpaksa mengurangi jumlah jurnalis untuk menyesuaikan dengan proyeksi bisnis yang tidak menentu.
“Saya selalu bilang ke pejabat-pejabat, tolong belanja iklan ke media massa, kalau tidak nanti mati. Hanya media dan insan pers yang memastikan akurasi dalam pemberitaan, bukan buzzer, YouTuber, atau influencer,” ujar Ninik dalam acara Indonesia Digital Conference (IDC) 2024 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) di Hotel Santika Premiere Slipi, Jakarta.
Ninik juga menekankan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap media masih tinggi. Berdasarkan riset AJI dan PR2MEDIA, lebih dari 70 persen masyarakat Indonesia masih percaya pada informasi yang disampaikan oleh media. Namun, perkembangan teknologi terus menciptakan cara baru dan inovasi dalam konsumsi informasi, sehingga media membutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar dapat bertahan menghadapi disrupsi ini.
“Kesungguhan pemerintah dalam mendukung keberlanjutan media sangat penting, salah satunya dengan mengutamakan belanja iklan kepada media nasional,” tambah Ninik.
Pada forum IDC 2024, Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi dan Media Massa, Molly Prabawaty, menyatakan bahwa pemerintah telah berkomitmen mendukung keberlanjutan media melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 32 Tahun 2024 tentang Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk Mendukung Jurnalisme Berkualitas, yang dikenal sebagai Perpres Publisher Rights.
“Perpres ini merupakan kebijakan afirmatif dan komitmen pemerintah untuk menciptakan persaingan yang adil bagi pelaku industri nasional dari perspektif bisnis, menciptakan hubungan yang adil, dan memastikan media tidak tergerus oleh disrupsi digital,” ujarnya.
Disrupsi digital yang berlangsung dalam 10-15 tahun terakhir telah mengubah industri pers secara mendasar di seluruh dunia. Distribusi berita kini didominasi oleh perusahaan platform digital global seperti Google, Meta, X, dan TikTok. Laporan Reuters Institute for the Study of Journalism pada Januari 2024 menunjukkan penurunan drastis jumlah pengunjung situs berita ketika lalu lintas dari media sosial juga mengalami penurunan signifikan.
Selain itu, disrupsi digital juga mengubah pola konsumsi informasi masyarakat. Audiens kini memiliki banyak pilihan sumber informasi di internet, dengan ekosistem yang dipenuhi konten dengan beragam kualitas. Media yang hanya menampilkan berita tanpa memahami karakter platform digital dan audiens berisiko kehilangan pembaca dan pendapatan.
Industri media di Indonesia diharapkan dapat bangkit dengan dukungan pemerintah dan berbagai pihak agar tetap relevan dan berkelanjutan di tengah perubahan zaman. [beq]






