Madinah (beritajatim.com) – Ribuan jemaah haji Indonesia melaksanakan ibadah salat Jumat perdana di Masjid Nabawi, Madinah, pada Jumat (24/4/2026) di tengah pengawasan ketat dan pelayanan inklusif bagi jemaah lansia serta disabilitas.
Antusiasme tinggi terlihat sejak pukul 10.00 Waktu Arab Saudi (WAS), di mana jemaah mulai memadati saf-saf terdepan untuk mengejar keutamaan ibadah Arbain (salat 40 waktu tanpa terputus) serta menunaikan sunah sedekah di lingkungan masjid tersuci kedua tersebut.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Haji Center (MHC) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, bahwa atmosfer di sekitar Masjid Nabawi saat ini sangat padat namun tetap terkendali.
Koordinasi lintas sektor diperkuat untuk memastikan jemaah—terutama kloter pertama yang tiba sejak 22 April lalu—mendapatkan perlindungan maksimal dari sengatan cuaca panas Madinah yang mencapai 38-39 derajat Celsius.
Antusiasme Jemaah Jawa Timur Mengejar Arbain
Bagi jemaah asal Probolinggo, Ihsan, momen Jumat pertama ini adalah target spiritual utama sejak menginjakkan kaki di Kota Nabi. Ia sengaja datang dua setengah jam sebelum azan berkumandang demi memastikan posisi di saf dalam masjid yang lebih sejuk.
“Saya bersyukur lokasi hotel sangat dekat, jadi target menjalankan salat Arbain (salat 40 waktu tanpa terputus) insyaallah bisa tercapai. Apalagi ini salat Jumat pertama di Nabawi, momen yang sangat saya idam-idamkan,” ungkap Ihsan penuh syukur.
Kedisiplinan jemaah seperti Ihsan sejalan dengan imbauan petugas yang menyarankan keberangkatan lebih awal karena kapasitas masjid biasanya sudah penuh pada pukul 11.00 WAS. Jemaah juga diingatkan untuk membawa kantong plastik untuk menyimpan sandal secara mandiri guna menghindari risiko kaki melepuh di pelataran masjid.
Layanan Inklusif dan Semangat Berbagi
Semangat ibadah juga terpancar dari Anton, jemaah asal Sukabumi yang merupakan penyandang disabilitas. Mengandalkan Pintu Nomor 17 yang ramah kursi roda, ia dapat mengakses saf khusus dengan bantuan jemaah lain dan petugas Linjam (Perlindungan Jemaah).
“Dari kamar saya diantar istri sampai ke depan pintu masuk masjid. Kemudian masuk masjid kadang sendiri, kadang dibantu jemaah lain karena perempuan tidak boleh masuk area sini,” kata Anton yang merasa dimudahkan oleh fasilitas inklusif di Nabawi tahun ini.
Selain ibadah wajib, momen ini dimanfaatkan jemaah untuk menebar kebaikan. Ansori, jemaah asal Tegal, terlihat membagikan sedekah kepada para petugas kebersihan sembari menunggu waktu salat. Aktivitas ini menjadi pemandangan jamak yang menambah kehangatan ukhuwah antarjemaah internasional di lokasi tersebut.
Instruksi Tegas: Petugas Wajib Kenakan Seragam
Di tengah kepadatan massa yang luar biasa, Kepala Daerah Kerja (Daker) Madinah, Khalilurrahman, memberikan instruksi tegas bagi seluruh jemaah dan petugas. Ia mewajibkan petugas PPIH, kloter, maupun daerah untuk tetap mengenakan seragam dinas lengkap tanpa kecuali, melarang penggunaan sarung atau baju koko saat bertugas di waktu Jumat.
“Seragam adalah identitas penolong jemaah. Dengan tetap mengenakan seragam, jemaah yang membutuhkan bantuan di tengah kepadatan salat Jumat dapat dengan cepat menemukan petugas,” tegas Khalilurrahman.
Kehadiran petugas berseragam ini sangat vital untuk menangani potensi gangguan kesehatan seperti pingsan, sakit, atau dehidrasi akibat cuaca ekstrem. Seluruh petugas juga diminta memantau kelengkapan identitas jemaah seperti Kartu Nusuk, yang menjadi syarat mutlak akses masuk dan verifikasi oleh otoritas keamanan Arab Saudi. [ian/ted]






