Blitar (beritajatim.com) – Keberadaan Bandara Internasional Dhoho Internasional Kediri membawa dampak positif bagi wilayah sekitar seperti Blitar hingga Nganjuk. Beroperasinya bandara milik Gudang Garam tersebut nyatanya bisa mendatangkan investor ke Kota Blitar.
Tercatat sejak dibangunnya Bandara Dhoho Kediri sudah ada sejumlah investor yang telah menanamkan modalnya di Bumi Bung Karno. Dua di antaranya adalah investasi di bidang perusahaan rokok.
Belum lagi sejumlah investasi di bidang kuliner serta hotel. Keberadaan Bandara Dhoho memang menjadi daya tarik tersendiri bagi investor luar daerah untuk menanamkan modalnya di wilayah sekitar seperti Blitar.
“Itu yang kami alami karena memang sekarang ini banyak pemodal yang ingin masuk ke Kota Blitar, salah satu pertimbangan mereka adalah beroperasionalnya Bandara Dhoho Kediri kemudian tol sudah beroperasional, mereka para investor ini sudah banyak yang ingin memindahkan unit usahanya ke Kota Blitar,” kata Heru Eko Pramono, Kepala DPMPTSP Kota Blitar, Senin (1/4/2024).
Selain faktor adanya Bandara Dhoho Kediri, masih rendahnya biaya operasional usaha juga menjadi pertimbangan bagi investor untuk menanamkan modalnya di Kota Blitar. Diketahui UMR Kota Blitar sendiri masih cukup kecil jika dibandingkan dengan kota-kota industri lainnya di Jawa Timur.
Diketahui UMR Kota Blitar adalah sebesar Rp2.330.000. Jumlah itu merupakan setengah dari UMR Surabaya maupun Mojokerto. Tentu hal itu menjadi pertimbangan para investor ingin memindahkan usahanya ke Blitar.
“Saat ini yang agak ramai itu investasi di bidang usaha rokok, antrinya luar biasa, yang sekarang sedang kita proses pelan pelan. Bahkan kemarin itu ada yang dari Jakarta mendirikan PT di Blitar dalam rangka mereka berinvestasi di bidang rokok,” bebernya.
Bidang rokok dan hotel serta kafe menjadi industri yang paling banyak dilirik oleh investor. Pada industri rokok misalnya sudah ada dua perusahaan rokok yang masuk ke Kota Blitar.
Kedua perusahaan itu adalah anak perusahaan Gudang Garam dan Sampoerna. Serta satu lagi perusahaan rokok yang sedang diproses perizinannya oleh DPMPTSP Kota Blitar.
Selain rokok, banyak pula investor yang menanamkan modalnya di bidang cafe dan hotel. Selama ini para investor tersebut juga telah berkolaborasi dengan penanam modal lokal.
“Paling banyak justru di bidang cafe dan hotel, kalau dilihat kafe itu banyak modal luar tapi berbaur dengan warga lokal,” imbuhnya.
Dengan banyaknya investor yang melirik Kota Blitar, diperkirakan angka investasi di Bumi Bung Karno akan terus naik hingga tahun 2026 mendatang. Perkiraan DPMPTSP Kota Blitar tingkat pertumbuhan investasi di Bumi Bung Karno bisa mencapai 2,0 persen atau Rp860 miliar.
Jumlah itu tentu cukup tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan investasi Kota Blitar sebelum adanya Bandara Dhoho Internasional Kediri. Diketahui total investasi Kota Blitar periode 2020-2022 hanya sekitar Rp300 miliar.
“Sekarang masih kita kejar, baik perusahaan rokok itu juga dua perusahaan telekomunikasi,” tegasnya. [owi/beq]






