Gresik (beritajatim.com) – Musim tanam kali ini terasa berbeda bagi Juwanto (52), petani asal Desa Dohoagung, Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik. Selama bertahun-tahun, dirinya selalu diliputi kekhawatiran soal ketersediaan pupuk. Tapi kini proses bertani berjalan lebih tenang. Pasalnya, harga pupuk bersubsidi oleh pemerintah melalui PT Pupuk Indonesia (Persero) diturunkan 20% dari harga eceran tertingi (HET).
Kabar baik ini disambut sumringah oleh Juwanto dan rekan-rekan sesama petani. Penurunan harga pupuk membawa angin segar bagi dirinya yang selama ini mengandalkan sektor pertanian sebagai mata pencarihannya
Bagi Juwanto, yang sejak kecil hidup di lingkungan petani, kebutuhan pupuk tak bisa dielakan. Meski hanya memiliki sawah seluas 1 hektare, pupuk sangat penting untuk menyuburkan tanah supaya hasil panen yang dihasilkan berkualitas. Apalagi saat ini, Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen, atau GKP ditetapkan Rp 6.500 perkilo sejak Januari 2025.
Dua kebijakan dari pemerintah tersebut, Juwanto semakin bersemangat dan benafas lega. Pupuk datang tepat waktu, sesuai kebutuhan dan mudah ditebus. Kondisi ini berbanding terbalik dengan sebelumnya. Dulu pupuk bersubsidi jenis Urea perkilonya Rp 2.250 sekarang dengan diskon 20% dijual Rp 1.800. Hal yang sama pada pupuk Phonska dari Rp 2.300 perkilo menjadi Rp 1.840 perkilo.
“Sekarang saya tak perlu mondar-mandir mencari pupuk. Sudah jelas jadwal dan tempatnya dan pupuknya mudah ditebus dengan harga terjangkau sesuai kantong petani,” ujar Juwanto sambil memantau tanaman padinya yang mulai menghijau rata, Minggu (28/12/2025).
Perubahan yang dirasakan Juwanto bukan tanpa sebab. Penguatan pelayanan, dan pengawalan distribusi pupuk oleh Pupuk Indonesia dengan anggota holdingnya Petrokimia Gresik (PG) mulai memberikan dampak nyata di tingkat petani kecil seperti dirinya. Dampaknya sangat dirasakan sekali. Petani asal Dohoaagung, Kecamatan Balongpanggang ini mengaku bisa menghemat Rp 50.000 saat membeli pupuk.
“Sebelum harga turun Pupuk Urea ukuran 50 kilogram dijual ke petani Rp 112.500 sekarang turun menjadi Rp 90.000. Hal yang sama pada pupuk Phonska dari Rp 115.000 turun Rp 92.000. Total kebutuhan pemupukan selama satu musim tanam dibutuhkan 200 hingga 300 kilogram pupuk per hektarenya,” ungkapnya.
Penurunan pupuk bersubsidi tersebut juga dirasakan oleh Aryatin (42) petani asal Desa Wedani, Kecamatan Cerme. Orang tua dua anak ini berharap hasil panennya bisa melimpah setelah ada kebijakan baru dari pemerintah. Dirinya juga mengusulkan tidak hanya pada persoalan pupuk saja. Tapi harga petisida juga turut diturunkan mengingat harganya masih mahal bagi kantong petani.
“Kalau bisa petisida harganya juga turun yang saat ini mencapai Rp 65 ribu perliternya untuk membasmi hama tanaman padi,” tuturnya.
Dengan memiliki lahan 4 hektare. Aryatin untuk sekali tanam membutuhkan 4 kwintal pupuk bersubsidi, atau 400 kilogram untuk satu hektarenya. Dari pemupukan ini, satu hektarenya bisa menghasilkan 7 ton gabah kering panen.
Dari hasil tersebut dirinya bersyukur karena untuk mendapatkan pupuk bersubsidi kini tak susah lagi seperti dulu. Melalui perbaikan sistem distribusi, layanan digitalisasi serta pendampingan terkait dengan kebutuhan pupuk bersubsidi serta non subsidi disalurkan tepat sasaran.
Pupuk Indonesia Distribusikan Pupuk
Sebelumnya, PT Pupuk Indonesia (Persero) dengan anggota holdingnya PT Petrokimia Gresik (PG) selama libur natal dan tahun baru (Nataru) menyediakan stok pupuk bersubsidi 236.486 ton. Jumlah ini diatas ketentuan safety stok, dan cukup untuk memenuhi kebutuhan petani selama beberapa pekan ke depan.
Dirut PT Petrokimia Gresik Daconi Khotob menuturkan, semua stok tersebut sudah ada di gudang-gudang lini III (kabupaten/kota) dan siap distribusikan ke Penerima Pupuk pada Titik Serah (PPTS) sesuai dengan kebutuhan petani.
“Kami berkomitmen mendukung peningkatan produktivitas pertanian dan terwujudnya swasembada pangan nasional. Petani tak perlu khawatir selama libur Nataru, karena stok pupuk telah kami siapkan dengan cukup di gudang-gudang siap didistribusikan ke PPTS untuk ditebus petani,” tuturnya.
Adapun stok per tanggal 24 Desember 2025, lanjut dia, terdiri pupuk urea bersubsidi sebanyak 18.635 ton, pupuk NPK Phonska 164.747 ton, pupuk organik Petroganik 49.247 ton, dan ZA bersubsidi 3.856 ton.
“Kami juga sering blusukan ke daerah-daerah untuk memastikan stok langsung di lapangan dan memastikan pupuk bersubsidi diterima oleh petani terdaftar,” papar Daconi.
Semua ini merupakan kebijakan dari Presiden Prabowo Subianto yang pro petani, dan rakyat supaya produktivitas pertanian meningkat.
Pendampingan Petani Pegang Peran Strategis
Regulasi pendistribusian serta ketersediaan pupuk telah dilakukan Pupuk Indonesia beserta anggota holdingnya. Kini perusahaan tersebut juga memperkuat pendampingan kepada petani. Bekerjasama dengan penyuluh pertanian, petani dibekali cara melakukan pemupukan yang benar, dosis berimbang, serta pemilihan pupuk sesuai kondisi lahan. Cara tersebut diharapkan bisa menghasilkan produktivitas yang meningkat.
Pendampingan sangat dirasakan sekali oleh petani karena menyangkut produktivitas. Pasalnya, tanaman padi bisa lebih sehat, tahan serangan hama, serta hasil panen sesuai harapan, Sejumlah petani turut merasakan adanya pendampingan, sehingga hasil panen mengalami peningkatan drastis.
“Dulu saya hanya asal pupuk saja. Sekarang kami diajari cara yang benar. Hasilnya kelihatan, tanaman padi semakin hijau,” ungkap Juwanto. [dny/but]






