Surabaya (beritajatim.com)– Mahasiswa ITS Surabaya ini punya kisah perjuangan yang mampu menyentuh hati siapa saja dalam melakoni hidup yang keras di Kota Pahlawan.
Salah satunya adalah perjalanan hidup Bima Saputra, atau yang akrab disapa Bimbim. Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini tak hanya mengemban tanggung jawab akademis, tetapi juga menjadi tulang punggung keluarga melalui usaha ayam geprek yang dirintisnya.
Setiap pagi, langkah pertama Bimbim dimulai di dapur kecil rumahnya di Mojosari, Mojokerto. Bersama ibunya, ia menyiapkan puluhan kotak nasi lengkap dengan ayam geprek khas buatannya.
Aktivitas ini bukan sekadar rutinitas, melainkan manifestasi dari tekadnya untuk membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Perjalanan 80 Kilometer Menuju Harapan
Perjalanan sejauh 80 kilometer dari Mojosari ke kampus ITS adalah medan yang dihadapi Bimbim setiap hari.
Dengan menggunakan transportasi umum, ia membawa 25 hingga 35 kotak nasi ayam geprek untuk dijual di kampus.
Harga yang dipatok, hanya Rp10 ribu per kotak, bukan semata demi keuntungan besar, melainkan untuk memberikan solusi makanan murah bagi teman-teman mahasiswa.
“Selain belajar, saya juga berjualan. Dengan berjualan ini, saya ingin membantu teman-teman perantau mendapatkan makanan murah,” ungkap Bimbim ketika ditemui di kampus.
Dedikasi Tanpa Batas
Selepas menyelesaikan jadwal kuliah, Bimbim tidak langsung beristirahat. Ia kembali ke rumah, membantu ibunya mempersiapkan bahan-bahan untuk dagangan esok hari. Siklus kerja keras ini terus ia jalani, tanpa mengeluh, karena baginya setiap langkah adalah investasi untuk masa depan.
Ketika kisahnya diunggah oleh seorang teman di media sosial, respons luar biasa pun datang. Kisah inspiratifnya menyebar luas, hingga menarik perhatian media nasional. Bahkan, ia diundang ke salah satu acara televisi untuk berbagi perjalanan hidupnya.
Belajar, Berdagang, dan Berbagi
Bimbim memiliki prinsip kuat dalam menjalani hidupnya. Meski usaha kecilnya ini menyita banyak waktu, ia tetap memprioritaskan pendidikan. Sebagai mahasiswa S1 Inovasi Digital di Departemen Sistem Informasi ITS, Bimbim menekankan pentingnya konsistensi dan keberanian memulai.
“Memulai usaha memang tidak mudah. Banyak hal yang dipikirkan, seperti rasa malu dan gengsi. Tapi kalau konsisten dan mau belajar, hasilnya akan menyenangkan,” tuturnya.
Kini, usaha ayam geprek miliknya mulai dikenal luas di kalangan mahasiswa ITS. Bimbim juga berencana memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan bisnisnya.
Baginya, keberhasilan usaha ini bukan hanya soal materi, tetapi juga kebanggaan karena mampu membantu keluarga dan memberi inspirasi bagi orang lain.
Di tengah kesibukannya, Bimbim tak lupa membagikan pesan untuk teman-teman mahasiswa yang ingin mengikuti jejaknya.
“Selalu ingat tujuan awal. Entah itu membantu keluarga atau menambah pengalaman. Sukses tidak datang dalam semalam, nikmati prosesnya, secapek apapun,” ucapnya penuh semangat.
Kisah Bimbim adalah bukti nyata bahwa di tengah keterbatasan, selalu ada peluang untuk tumbuh dan berbagi. Ayam geprek yang ia jual bukan hanya makanan, tetapi juga simbol perjuangan, harapan, dan inspirasi bagi mahasiswa lainnya. (ted)






