Surabaya (beritajatim.com) – Ramadan selalu membawa suasana khas, dan bagi banyak orang, berbuka puasa adalah momen yang penuh makna. Bukan hanya sekadar melepas dahaga, tetapi juga kesempatan menikmati berbagai hidangan istimewa yang memanjakan lidah.
Di Surabaya, Resto Al Hamra menjadi destinasi kuliner yang kerap dicari para pecinta masakan Timur Tengah. Salah satu menu yang paling menggugah selera adalah Goat Head Roasted, kepala kambing panggang yang disajikan utuh, menggoda dengan aroma rempah yang memikat.
Bagi Kuncoro, Executive Chef Al Hamra Surabaya, kelezatan hidangan ini terletak pada kesegaran bahan dan teknik memasak yang teliti. “Kambing harus benar-benar segar. Setelah dipotong, proses pengolahan harus segera dilakukan,” ujarnya, Senin (16/2/2026).
Menurut Kuncoro, memasak kepala kambing bukanlah hal yang bisa dilakukan sembarangan. Prosesnya dimulai dengan perebusan dua kali: pertama untuk membersihkan kotoran dan darah, lalu perebusan kedua dengan campuran rempah-rempah pilihan.
Setelah itu, kepala kambing dibumbui dengan rempah khas Arab dan dipanggang selama dua jam, menghasilkan cita rasa yang gurih dan lezat.
Namun, Goat Head Roasted bukan satu-satunya menu andalan di Resto Al Hamra. Nasi kebuli dan berbagai olahan daging kambing juga menjadi favorit banyak pelanggan. Kuncoro menjelaskan bahwa nasi kebuli, yang dimasak dengan menggunakan beras basmati dari India dan Pakistan, membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk disiapkan.
“Proses masaknya masih tradisional. Kami menggunakan safron dan mengasapnya untuk memberi aroma yang khas,” tambahnya.
Yang membedakan Resto Al Hamra dari restoran Timur Tengah lainnya adalah komitmennya terhadap kualitas dan keaslian rasa. Dheenaz Malvinas, pengelola restoran, menambahkan bahwa mereka hanya menggunakan kambing segar dari peternakan dengan sertifikat halal.

Setiap pemilihan kambing dilakukan dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada bau prengus, yang kerap jadi masalah di restoran lain. Bahkan kualitas beras yang digunakan untuk nasi kebuli pun menjadi perhatian khusus.
Perubahan minat pasar juga terlihat jelas. Dheenaz mencatat bahwa meski minat dari masyarakat keturunan Timur Tengah di Surabaya mulai menurun, kuliner khas Arab semakin digemari oleh masyarakat lokal.
“Banyak yang tahu beras basmati itu rendah kalori, jadi lebih sehat. Masakan Timur Tengah di sini sudah menyesuaikan dengan lidah lokal, namun tetap mempertahankan rasa gurih yang autentik,” ungkapnya.
Selain Goat Head Roasted, menu lain yang sangat disukai adalah haneed atau kambing oven bagian paha, serta quesadillas al Arabi yang memadukan konsep tradisional Timur Tengah dengan sentuhan modern.
Menu-menu ini tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menggugah kenangan akan masakan Timur Tengah yang kaya rasa dan penuh tradisi.
Al Hamra Surabaya tidak hanya menyajikan hidangan lezat, tetapi juga mengajak setiap pengunjung untuk merasakan pengalaman kuliner yang memanjakan jiwa, terutama saat berbuka puasa di bulan Ramadhan.
Dengan bahan-bahan berkualitas, teknik memasak yang teliti, dan rasa yang otentik, setiap gigitan membawa Anda lebih dekat ke kehangatan meja makan Timur Tengah yang sesungguhnya. [way/suf]






