Pasuruan (beritajatim.com) – Beban berat terpanggul di pundak Stephanie Maria Angeline, Antonius Bernard, dan Vincentius Leonardo. Di usia yang masih tergolong belia, bahkan saat masih mengenyam bangku kuliah, ketiganya harus berjibaku menyelamatkan warisan bisnis keluarga, Trendy Springbed, yang terancam karam.
Kisah jatuh bangun mempertahankan merek yang pernah berjaya ini menjadi cerminan semangat pantang menyerah generasi muda di tengah pusaran ekonomi yang tak selalu mulus.
Gelombang kesulitan menerjang bisnis keluarga ini sejak tahun 2003, ketika sang ayahanda jatuh sakit dan harus menjalani operasi pada tahun 2008. Vincentius Leonardo, Project Director PT Gerongan Surajaya, perusahaan di balik merek Trendy Springbed, mengenang masa-masa sulit itu.
“Jadi 2003 sakit, 2008 operasi. Penjualan mulai merosot seiring dengan adanya konflik internal manajemen. Ditambah lagi pesaing semakin bertambah. Akibatnya sejumlah aset dibagi-bagi dan pabrik yang dulunya dibeberapa titik di Surabaya Timur pun harus tutup,” kenang Leonardo yang saat itu masih jadi anak kuliahan.
Belum lagi usai badai konflik internal, 2006 bencana lumpur Lapindo pun terjadi. Pabrik Pasuruan pun harus ditutup karena sulitnya transportasi untuk distribusi ke Surabaya.
“Saat itu, kami yang masih belia ditugaskan bapak kami untuk bisa memindahkan pabrik ke Kedung Cowek Surabaya. Namun penjualan sudah tak seperti tahun 90 an saat Trendy Springbed terkenal di Surabaya. Utang perusahaan menumpuk dan Koko Saya, Bernard harus menggadaikan rumah tinggal kami satu-satunya ke bank agar karyawan tetap gajian,” kenang si bungsu Leonardo.
Di tengah kondisi keuangan yang terpuruk dan utang yang menggunung, tongkat estafet kepemimpinan beralih ke pundak ketiga bersaudara ini. Stephanie Maria Angeline memegang kendali sebagai Digital Marketing Director, Antonius Bernard sebagai Managing Director, dan Vincentius fokus pada pemasaran.
“Dulu itu awalnya menyedihkan juga. Di 2016 itulah kami yang masih bodoh-bodoh ini mengambil alih. Cece Stephanie yang dulunya kuliah di Desain Graphis mulai membuat foto produk untuk di jual ke platform online, salah satunya Shopee,” beber Leonardo sambil tersenyum getir mengingat masa transisi yang penuh tantangan.
Leonardo menambahkan, masa-masa awal kepemimpinan mereka terasa seperti benar-benar memulai dari nol.
“Andai dulu Papa tidak mengajari saya bekerja dari nol mulai dari tukang jahit springbed, montir mesin pabrik bahkan belajar Photoshop dari beliau, mungkin saya sudah menyerah,” paparnya.
Dimasa sulit itu juga mereka bertiga harus turun tangan menjualkan Trendy Springbed dari toko ke toko. Tak jarang ditolak mentah-mentah.
Kerja keras mereka bertiga di tahun 2018 mulai menunjukkan hasil, penjualan di Shopee dengan promosi seadanya sudah mulai mampu membayar gaji karyawan dan pabrik di Pasuruan bisa berproduksi cukup besar. Saat ini omset setiap bulan dari penjualan di Shopee sekitar Rp 60 jutaan.
Namun badai kedua datang di awal tahun 2020, saat itu Covid 19 membuat penjualan di offline bahkan di Shopee merosot tajam. Selama 7 bulan penghasilan perusahaan minus, hampir bangkrut lagi.
Beruntung di bulan ke 7 ada proyek pengadaan matras untuk rumah sakit Covid 19 dari berbagai daerah datang. Cukup menutup kerugian selama 7 bulan. Sempat juga ketiganya sepakat menutup akun Shopee sementara karena banyak pesanan rumah sakit.
“Namun saya waktu itu berpikir, proyek ini tak akan lama. Kami pun kembali membuka Shopee setelah sebulan vakum. Sejak saat itu kami mulai serius melihat Shopee sebagai potensi utama penjualan kami,” aku sang kakak Bernard menceritakan pasang surut hubungan Trendy Springbed dengan Shopee.

Stephanie pun menceritakan beberapa kejadian lucu saat berjualan pertama kali di Shopee. Dimana saat itu dirinya mengenal Shopee secara otodidak. Saat itu akun mereka belum di-create. Namun nekat berjualan di Shopee menggunakan akun buyer.
“Saya juga nekat jualan di Shopee dengan live streaming seadanya. Bahkan pernah live dengan barang yang tidak ada. Dan pelanggan diminta membayangkan produknya karena contoh produk waktu itu belum ada,” ujarnya tergelak.
Bernard pun mengenang salah satu kejadian lucu sekaligus menegangkan, “Pernah juga kami salah membatasi promo, matras senilai 10 ribu di flash sales, Shopee namun lupa memberi batasan. Eh pas pagi hari kami bangun pesanannya sudah mencapai 400 order, tetap harus dikirim, walaupun boncos,” tambahnya.
Kini, berkat kegigihan dan adaptasi terhadap platform digital, Trendy Springbed berhasil mencatatkan omzet miliaran rupiah per tahun, yang sebagian besar berasal dari penjualan melalui aplikasi Shopee.
“Literasi diversifikasi produk Trendy Springbed yang kini ada puluhan varian pun kami pelajari dan comot dari Shopee. Di Shopee juga disediakan resource yang dibutuhkan perusahaan seperti kami. Sekarang kami bekerja 7/24 di pabrik ini karena pesanan dari Shopee sangat besar,” tandas Bernard.
Kehadiran Shopee menjadi penyelamat bisnis Trendy Springbed sebanyak dua kali. Pertama, saat ketiganya mulai serius memanfaatkan platform seller di Shopee, dan yang kedua, saat platform ini menjadi tumpuan di tengah pandemi Covid-19 pada tahun 2020.
Kisah tiga bersaudara ini menjadi inspirasi bahwa dengan semangat pantang menyerah, adaptasi terhadap perubahan, dan pemanfaatan teknologi, bahkan bisnis keluarga yang sempat terpuruk pun dapat kembali bangkit dan meraih kesuksesan di era digital ini.[rea]






