Surabaya (beritajatim.com) — Upaya menghadirkan layanan kesehatan mata yang lebih presisi dan efisien mengantarkan JEC Eye Hospitals and Clinics meraih dua penghargaan bergengsi dalam ajang Healthcare Asia Awards 2026. Capaian ini tak lepas dari terobosan layanan berbasis kebutuhan pasien, khususnya dalam penanganan mata kering dan optimalisasi sistem operasi.
“Penghargaan ini bukan hanya menjadi kebanggaan bagi JEC Eye Hospitals and Clinics, tetapi juga merupakan validasi atas pendekatan kami dalam membangun layanan kesehatan mata yang terstandarisasi, terukur, dan berorientasi pada kebutuhan pasien,” ujar Direktur Pengembangan & Pendidikan, Prof. Tjahjono D. Gondhowiardjo.
Salah satu penghargaan, Clinical Service Initiative of the Year – Indonesia, yang diberikan atas program Integrated Dry Eye Standardisation and Awareness Programme, ini menjadi jawaban atas tingginya kasus di Indonesia yang kerap luput dari diagnosis.
Data menunjukkan, sekitar 27,5 persen populasi atau lebih dari 76 juta orang di Indonesia berpotensi mengalami mata kering. Namun, rendahnya kesadaran membuat banyak kasus tidak tertangani secara optimal. Melihat kondisi ini, JEC menghadirkan pendekatan terpadu—menggabungkan edukasi publik dengan standar diagnosis dan terapi yang seragam di seluruh jaringan layanan.
Pendekatan ini diperkuat dengan kehadiran microsite edukasi serta fitur skrining mandiri berbasis Dry Eye Questionnaire-5. Menariknya, alat ini dikemas interaktif layaknya gim, sehingga memudahkan masyarakat mengenali gejala sejak dini. Setiap tahun, ratusan pasien memanfaatkan fasilitas ini sebagai langkah awal sebelum berkonsultasi ke dokter spesialis.
Tak hanya dari sisi pasien, peningkatan kualitas juga menyasar tenaga medis. JEC secara aktif mengirim dokter spesialis mengikuti program observership internasional ke Jepang dan Korea Selatan guna memperbarui pengetahuan terkait diagnosis dan terapi terkini.
Hasilnya cukup signifikan. Dalam kurun satu tahun, angka diagnosis mata kering di jaringan JEC meningkat rata-rata 30 persen. Bahkan, beberapa cabang mencatat lonjakan hingga 80 persen setelah penerapan protokol terstandarisasi.
Inovasi lainnya hadir melalui layanan Dry Eye Spa, sebuah pendekatan perawatan yang mengintegrasikan terapi kelenjar meibomian dengan teknologi intense pulsed light. Layanan ini memperkuat penanganan mata kering agar lebih menyeluruh, tidak hanya bersifat kuratif tetapi juga preventif.
Kesuksesan program ini turut ditopang oleh penguatan sumber daya manusia. Lebih dari 150 dokter spesialis mata, 400 perawat, serta ratusan tenaga kesehatan lainnya terlibat dalam sistem pelatihan berkelanjutan guna menjaga konsistensi layanan di seluruh cabang.
Di sisi lain, penghargaan Specialty Clinic of the Year (Ophthalmology) – Indonesia diberikan atas performa operasional JEC @ Tambora yang dinilai efisien sekaligus berkualitas. Klinik ini menjadi contoh bagaimana pengelolaan layanan modern mampu meningkatkan produktivitas tanpa mengorbankan keselamatan pasien.
Beroperasi di fasilitas seluas sekitar 500 meter persegi, JEC @ Tambora didukung 11 dokter spesialis dan puluhan tenaga medis. Sepanjang 2024, klinik ini melayani lebih dari 35 ribu kunjungan rawat jalan dan melakukan lebih dari 5 ribu tindakan operasi, termasuk ribuan prosedur katarak.
Efisiensi layanan terlihat dari tingginya tingkat konversi pasien menuju tindakan operasi yang melampaui rata-rata jaringan JEC, yakni di atas 65 persen. Sistem alur pasien yang tertata serta pemanfaatan teknologi digital dalam pengaturan jadwal menjadi faktor kunci keberhasilan tersebut.
Meski volume layanan tinggi, standar keselamatan tetap terjaga. Tingkat komplikasi yang dilaporkan berada di kisaran 1 persen, mencerminkan kualitas klinis yang konsisten.
Penghargaan ini diterima oleh dalam seremoni yang digelar di Singapura. Ia menegaskan, pencapaian ini menjadi motivasi untuk terus menghadirkan layanan kesehatan mata yang terukur, terstandarisasi, dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
“Melalui inovasi seperti program penanganan mata kering yang terintegrasi serta penguatan sistem layanan bedah yang efisien, kami ingin memastikan bahwa setiap pasien mendapatkan diagnosis yang akurat, terapi yang tepat, dan pengalaman layanan yang optimal,” ujar Prof. Tjahjono D. Gondhowiardjo. (fyi/kun)






