Ponorogo (beritajatim.com) – Nama Daniswara Adi Permana kian dikenal di dunia pewayangan Indonesia. Pelajar dari SMPN 1 Ponorogo ini, baru saja menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih juara 3 di ajang Festival Dalang Anak Tingkat Nasional ke-17.
Festival yang berlangsung pada 4-6 November 2024 di Gedung Pewayangan Kautaman, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, ini diikuti 28 peserta dari berbagai wilayah Indonesia.
“Alhamdulillah bisa meraih juara 3 dalam Festival Dalang Anak tingkat nasional,” ujar Danis sapaan akrabnya saat ditemui di sela-sela latihan di sekolahnya, Senin (11/11/2024).
Perjalanan Danis menuju panggung nasional tidaklah singkat. Sejak duduk di kelas 3 SD, Danis sudah terpikat oleh dunia pewayangan. Walaupun tidak berasal dari keluarga dalang (ayahnya adalah seniman Reog), minat dan dedikasinya terhadap wayang kulit tidak surut. Dukungan keluarganya, meski berbeda jalur seni, tetap mengalir penuh.
“Bapak justru seniman Reog, tapi saya sudah suka wayang sejak kelas 3 SD. Latihan hampir setiap hari,” cerita Danis. Latihan intens selama dua bulan sebelum festival menjadi kunci penampilannya yang memukau di Jakarta.
Keberhasilan Danis semakin manis dengan kehadiran grup karawitan Sri Manunggal dari SMPN 1 Ponorogo, yang mengiringi penampilannya. Tim karawitan ini terdiri dari rekan-rekannya di SMPN 1 Ponorogo, mencakup siswa kelas 7 hingga 9. Kerja sama mereka tidak hanya membanggakan, tetapi juga mengukuhkan dedikasi para siswa dalam melestarikan seni tradisional Jawa.
“Untuk mempersiapkan pementasan ini, kami latihan intensif selama dua bulan. Chemistry antar pemain sangat penting, jadi kami berlatih setiap hari,” jelas Rheyna Happy Prima Ardi Fitra, sinden dari grup karawitan tersebut.
Menurut Haryo Widu Sulaksono, guru pembimbing ekstrakurikuler pewayangan dan karawitan di SMPN 1 Ponorogo, kesabaran adalah kunci dalam mengajarkan seni tradisional kepada murid-muridnya. Ia mengakui bahwa sebagian besar siswa yang bergabung dalam ekstrakurikuler ini belum pernah mengenal karawitan sebelumnya.
“Yang ikut ekskul karawitan ini ada sekitar 100-an siswa, dan mayoritas belajar dari nol. Saat SD, banyak dari mereka belum pernah memegang alat musik karawitan,” ungkap Haryo, yang juga alumni SMPN 1 Ponorogo.
SMPN 1 Ponorogo nampaknya tidak akan kehabisan siswa yang berbakat dan suka dalam dunia pewayangan. Sejak tahun 2014, setiap tahun, selalu ada siswa dengan bakat mendalang yang menonjol.
Alhasil, gayung pun bersambut, sekolah favorit di Bumi Reog ini pun mewadahinya. Alhasil, SMPN 1 Ponorogo sudah ikut serta dalam festival dalang anak nasional yang diadakan di Jakarta ini, sudah untuk kelima kalinya. Upaya sekolah dalam mendukung kegiatan ini membuktikan komitmennya dalam melestarikan budaya lokal.
“Kami sudah ikut festival ini lima kali. Ini bagian dari usaha kami untuk melestarikan budaya bangsa,” tutup Haryo Widu. [end/aje]






