Surabaya (beritajatim.com) – Pengamat sepak bola Indonesia Hanafing mengatakan era sepak bola saat ini banyak berubah. Perubahan terutama pada fanatisme suporter yang semakin tidak terkontrol.
Menurutnya sejak era Galatama berakhir dan berubah menjadi era Liga Indonesia mulqi muncul fanatik yang tidak terkontrol. Misalnya ada suporter yang tidak bisa menerima kekalahan dari tim kesayangan.
“Di Era Galatama ada owner pemilik Klub yang membiayai sendiri klub Gatamanya. Sehingga campur tangan supporter hanya sebatas mensupport timnya di lapangan. Tidak ada intervensi ke dalam tim. Tapi di era Liga Indonesia, supporter sudah banyak yang ikut campur ke dalam tim,” ucapnya.
Lebih lanjut, Hanafing melihat saat ini tak jarang dari para suporter yang terlalu jauh masuk ke dalam urusan tim dan melebihi batas. Jika keinginan yang tidak sesuai ekspektasi, mereka akan melampiaskam dengan hal semacam teror maupun kericuhan.
[berita-terkait number=”4″ tag=”demo-aremania-ricuh”]
“Karena merasa ikut terlibat di tim sehingga jika mereka tidak puas, maka dilampiaskanlah di lapangan dengan teror yang sangat merugikan timnya sendiri hingga sampai luar lapangan,” ungkap Hanafing, Selasa (31/1/2023).
Lebih lanjut dikatakan mantan pelatih pra PON Jawa Timur 2016 ini, untuk mengubah mainset suporter ini memang butuh waktu. Tidak semua suporter mengerti akan hal ini.
Ia berharap akan ada semacam workshop tentang sikap seorang suporter dalam mendukung tim kesayangannya.
“Perlu babyak diskusi untuk melibatkan supoeter mulai dari lapisan bawah. Entah itu semacam workshop tentang bagaimana sikap seorang dalam mendukung tim kesayangannya untuk sebuah perubahan,” imbuhnya. [way/but]






