Jakarta (beritajatim.com) – Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Royal Season turut angkat suara atas video viral yang diunggah oleh influencer Neo Japan, yang mengaku mendapat telepon dari pejabat Jepang untuk membahas perilaku negatif pekerja migran Indonesia di Negeri Sakura. Dalam video tersebut, Neo Japan secara terbuka menyebut sejumlah tindakan tidak terpuji yang dilakukan warga negara Indonesia (WNI) di Jepang.
Namun, belakangan pemilik nama asli Dian Kusuma itu mengubah pernyataannya. Ia mengaku bahwa sosok yang menghubunginya lewat sambungan telepon ternyata bukanlah pejabat resmi dari pemerintah Jepang.
Pimpinan LPK Royal Season Solo, Rani Febriana, menyampaikan keprihatinannya atas kejadian tersebut. Ia menegaskan bahwa unggahan Neo Japan bisa berdampak serius terhadap hubungan diplomatik Indonesia–Jepang yang selama ini telah terjalin erat dalam berbagai sektor kerja sama.
“Hubungan baik telah terbina selama ini antara Indonesia-Jepang. Dampak dari informasi yang tidak benar dapat mengganggu hubungan bilateral kedua negara yang telah berusia 67 tahun,” kata Rani Febriana pada Kamis (24/7/2025).
Rani menambahkan, sebagai WNI yang tinggal di Jepang, Neo Japan seharusnya tidak ragu untuk menyampaikan keresahan melalui kanal resmi yang telah disediakan oleh Pemerintah Indonesia. Ia menekankan bahwa pemerintah memiliki banyak jalur pengaduan yang dapat diakses secara mudah, baik secara daring maupun lewat sambungan telepon.
“Laporan bisa juga langsung disampaikan ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia atau Kedutaan Besar Republik Indonesia terdekat,” imbuh Rani Febriana.
Ia menyayangkan unggahan Neo Japan yang dinilainya sebagai informasi tidak benar atau hoaks, karena telah memicu kegaduhan di kalangan pekerja migran Indonesia yang sedang mencari nafkah di Jepang.
“Sangat disayangkan hoaks influencer Neo Japan. Tindakannya menggangu lingkungan pekerja migran Indonesia yang sedang mengais rezeki demi keluarga di luar negeri, khususnya di Jepang,” tutur Rani Febriana.
Rani juga mengingatkan pentingnya menjaga etika bermedia sosial, khususnya bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri. Menurutnya, setiap individu harus menyadari bahwa informasi yang dibagikan di media sosial bisa berdampak luas terhadap komunitas lain.
“Nama baik negara dan masa depan masyarakat Indonesia yang ingin menyambung hidup kerja di luar negeri jangan dilupakan begitu saja,” kata Rani Febriana. [beq]






