Sampang (beritajatim.com) – Beberapa kali diguyur hujan, ratusan hektar lahan garam rakyat di Kabupaten Sampang mulai tergenang air hingga mengakibatkan produksi garam secara otomatis terhenti.
“Sejak sepekan terakhir ini hujan mulai terjadi di sebagian wilayah, termasuk di Kecamatan Sampang dan Kecamatan Sereseh yang menjadi pusat produksi garam,” ujar Mashudi, pemilik lahan garam di Desa Aeng Sareh, Kecamatan/Kabupaten Sampang, Rabu (13/11/2023).
Ia menceritakan, air hujan yang mengenanggi lahan garam juga membuat para petani dan kuli angkut tidak bekerja. Karena lahan tidak bisa digunakan untuk memproses pembuatan garam.
“Ya kalau sudah memasuki musim hujan seperti saat ini kami tidak bekerja, termasuk ratusan kuli angkut. Makanya harus cari alternatif pekerjaan lain,” tambahnya.
Hal senada juga dikatakan Sukron Hafidi, pemilik lahan garam di Kecamatan Sereseh. Namun, ia mengaku akan mengalihkan lahan garam tersebut untuk membudidayakan ikan bandeng dan mujaer. Sembari menunggu musim kemarau datang lagi.
“Biasanya pemilik lahan di kecamatan kami kalau sudah musim hujan mengalihkan laham garam menjadi tambak ikan, nanti kalau kemarau difungsikan lagi untuk memproduksi garam,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa Sukron ini juga menceritakan dampak dari musim hujan ini diperkirakan harga garam merangkak naik. “Biasanya kalau musim hujan harga garam tidak stabil,” pungkasnya. [sar/suf]






