Jember (beritajatim.com) – Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur Kabupaten Jember, Jawa Timur, selama dua pekan terakhir menyebabkan petani kesulitan menjual gabah di tengah musim panen raya.
Hendrik Wibahono, petani di Desa Kalisat, Kecamatan Kalisat, mengatakan, curah hujan yang tinggi menyebabkan kadar air meningkat. “Sementara permintaan Bulog, kader air gabah harus di bawah 30 persen,” katanya.
Hendrik tak sendirian. Banyak petani yang gagal panen karena sawah terendam air dan terkena hama wereng maupun diserang tikus dan burung. “Sisanya dibeli pedagang dengan harga murah. Bukan untung tapi buntung,” kata Jumantoro, petani asal Kecamatan Arjasa, Kamis (5/3/2026).
Harga pembelian pemerintah (HPP) ditetapkan Rp 6.500 per kilogram dengan kadar air 25 persen dan gabuk 10 persen. “Tapi dengan cuaca seperti ini otomatis dibeli di bawah HPP, karena memang kualitasnya agak basah,” kata Jumantoro.
Harga varietas legowo hari ini Rp 5.700 per kilogram dan IR 64 itu berkisar Rp6.000-Rp6.200 per kilogram si tingkat petani. “Untuk kualitas bagus, pedagang membelinya Rp6.000, maksimal Rp6.200 per kilogram. Sementara harga pembelian pemerintah (HPP) Rp 6.500 dengan kadar air ,” kata Jumantoro.
Namun tak semua pedagang mau membeli gabah dari petani saat ini, karena gudang penuh. “Ini lagu lama kalau sudah memasuki musim panen raya.. Kasihan petani,” kata Jumantoro.
Informasi yang diterima Jumantoro, sebenarnya gudang Badan Urusan Logistik (Bulog) masih terbuka untuk menyerap gabah petani. “Cuma petani kesulitan, tidak bisa bawa langsung ke Bulog, karena hasil panennya terlalu sedikit untuk diangkut ke Bulog,” katanya.
Tak semua petani punya kendaraan transportasi maupun bisa menyewanya. “Ditawar berapapun oleh pedagang akhirnya diberikan. Yang penting gabahnya bisa dibeli,” kata Jumantoro.
Akhirnya hanya pedagang yang bisa menjual gabah ke Bulog. “Makanya harapan saya, ada serap gabah langsung dari Bulog,” kata Jumantoro.
Jumantoro menyebut kondisi ini sebagai ironi. “Petani yang punya barang tidak bisa menentukan harga. Mereka kalah dengan pedagang cilok yang bisa menentukan harga sendiri,” katanya.
Ketua Komisi B DPRD Jember Candra Ari Fianto meminta pemerintah daerah segera berkomunikasi dengan Bulog untuk menangani situasi ini. “Dengan demikian gabah petani bisa terserap optimal dengan harga yang telah ditentukan pusat, dan Bulog terbantu dengan sosialisasi yang baik soal gabah yang bisa diserap,” katanya.
Candra menyadari Bulog juga dalam kondisi sulit. Mereka tidak bisa begitu saja menyerap gabah petani tanpa memperhatikan kualitas. Gabah dengan kualitas buruk akan membuat kualitas beras yang dijual Bulog ke masyarakat rendah. “Ini memunculkan stigma tidak baik juga kepada Bulog,” katanya. [wir]






