Ngawi (beritajatim.com) – Sopir di Ngawi menceritakan soal penggunakan QR code untukk membeli Solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Mereka merasa jika penggunaan QR Code memang bisa memberikan batasan khusus sesuai dengan ketersediaan BBM di SPBU.
”Sebenarnya sangat membantu untuk pencegahan penimbunan BBM, karena ada jatah tertentu ya,” kata Govinda, pengemudi pikap yang biasa mengangkut sapi untuk diperjualbelikan.
Dirinya menganggap sistem pembelian QR code yang sudah berjalan dua tahun ini tidak ada kendala khusus. Hanya saja, dia merasa tak kebagian solar di beberapa SPBU. Kadang ada, kadang tidak.
”Sebenarnya ya untuk penggunaan ya tidak ada kendala ya. CUma kadang Solar ada, kadang gak ada. Hampir sama saja di semua SPBU di Ngawi,” katanya.
Namun, untuk pengguna yang sekali jalan hanya di kawasan lokal Ngawi saja menurutnya tak cukup terganggu dengan ketersediaan. ”Ya meski kadang jatah sehari cuma Rp400 ribu kadang kurang. Biasanya sekali jalan saya beli Rp200 ribu,” katanya.
Sementara itu, Suyadi, sopir yang lain mengatakan jika dirinya memang merasa biasa saja dengan adanya QR Code. Hanya saja, belakangan ini pendaftaran agak lama.
”Plat nomor baru biasanya, kadang kalau habis bayar pajak, kan plat nomor kadang berganti. Nah, ketika mendaftarkan lagi ini QR codenya agak lama jadinya. Sampai sebulan, kami ga tahu kenapa. Padahal dulu mudah sekali. Gak sampai sehari menyerahkan syarat pendaftara, kodenya sudah jadi,” katanya. [fiq/ted]






