Ponorogo (beritajatim.com) – Setiap hari mendengar suara tembakan dan ledakan. Itulah yang diungkapkan oleh Husnul Ma’arif, mahasiswa asal Kabupaten Ponorogo yang menimba ilmu di negara Sudan.
Ya, Husnul Ma’arif akhirnya bisa kembali ke tanah air, setelah negara di benua Afrika tersebut, sejak 15 April 2023 lalu terjadi konflik antara tentara Sudan dengan Pasukan Pendukung Cepat (RSF) atau biasa disebut sebagai paramiliter. Kondisi yang tidak aman itu, membuat Husnul dan ribuan Warga Negara Indonesia (WNI) lainnya diputuskan oleh KBRI disana untuk dipulangkan ke tanah air Indonesia.
“Suasananya dibilang mencekam ya mencekam, takut juga. Setiap hari terdengar suara tembakan. Bandara pun juga ditutup, karena juga digunakan untuk pertempuran antara tentara Sudan dengan pemberontak,” kata Husnul Ma’arif saat ditemui beritajatim.com, Jumat (05/05/2023).
Husnul menceritakan bahwa saat konflik militer pecah, dirinya dengan WNI lainnya hanya bisa pasrah. Bahkan dirinya dan pelajar Indonesia lainnya sempat mengalami kesulitan logistik. Sebab, saat konflik itu berlangsung, terjadi penjarahan besar-besaran. Sehingga membuat bahan makanan langka. Tidak hanya bahan makanan saja yang langka, bahan bakar minyak seperti solar pun juga sulit didapat.
“Dapat bantuan dari KBRI melalui Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Sudan. Tetapi dengan kondisi seperti itu, ya serba keterbatasan,” katanya.
[berita-terkait number=”2″ tag=”sudan”]
Husnul merupakan warga Desa Pintu Kecamatan Jenangan Ponorogo. Dia berangkat ke Sudan sejak tahun 2015 lalu. Saat itu, Ia belajar di Omdurman Islamic University, Jurusan Ilmu Syariah dan Hukum dan lulus 2021 lalu. Setelah lulus S1, Husnul pun langsung mengambil pascasarjana Jurusan Ilmu Syariah dan Ushul Fiqh di Universitas Al Qur’an Al Karim di Omdurman.
“Ya sebenarnya sebentar lagi lulus, saat ini sedang mengerjakan tesis. Tetapi mau gimana lagi, karena situasi tidak aman, ya pulang dulu,” ungkap anak ketiga dari pasangan Maksum dan Sujirah itu.
Praktis hampir 2 minggi, Husnul dan mahasiswa lainnya berada dalam keadaan was-was karena konflik militer itu tidak kunjung berakhir. Baru pada tanggal 28 April lalu, dirinya bersama WNI lainnya bisa dievakuasi ke pelabuhan. Husnul menyebutkan bahwa pelabuhan menjadi akses satu-satunya jika keluar dari Sudan. Setelah berada di pelabuhan, mereka dievakuasi ke negara Arab Saudi dengan menggunakan kapal. Sampai di Arab Saudi barulah dievakuasi dengan menggunakan pesawat terbang untuk kembali ke Indonesia.
“Perjalanan dengan pesawat kurang lebih 17 jam. Sebab, sempat transit dulu ke Oman, India dan Aceh, lalu mendarat di bandara Halim Perdanakusuma Jakarta,” katanya.
https://beritajatim.com/peristiwa/mahasiswi-asal-laren-lamongan-berhasil-dievakuasi-dari-sudan-kembali-kumpul-keluarga/
Sampai Jakarta, diantar ke asrama haji di Jakarta Timur, barulah dijemput dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim dan diantar ke asrama haji di Surabaya. Sebenarnya, waktu di asrama haji Surabaya itu, Husnul ditawari untuk menginap dulu, namun dirinya kepingin pulang ke rumahnya yang sudah Ia tinggal sejak tahun 2015 lalu.
“Sampai di Ponorogo tiga hari lalu, pukul 02.00 dini hari,” katanya.
Tangis pun pecah saat Husnul tiba di rumahnya. Suasana haru pun terjadi ketika orang tua Husnul memeluk dirinya. Selama ada konflik di Sudah, Ia tidak bercerita kepada orangtuanya. Dirinya tidak ingin, bapak ibuknya menjadi khawatir dengan kondisinya di Sudan akhir-akhir ini.
“Ya tidak pernah cerita kondisi di Sudan seperti apa, ya takut saja kalau malah orangtua khawatir dan kepikiran,” pungkasnya. (End/ted






