Blitar (beritajatim.com) – Kasus campak di Kota Blitar hingga kini belum ditemukan. Namun demikian, Dinas Kesehatan Kota Blitar terus berupaya mengantisipasi menyebarnya penyakit campak di masyarakat.
Salah satu upaya yang dilakukan tracing terhadap kondisi balita atau anak yang mengalami gejala panas, batuk pilek serta ruam merah. Tracing dilakukan Dinkes Kota Blitar dengan melibatkan puskemas atau rumah sakit.
Penyisiran ini dilakukan untuk mengetahui kondisi balita atau anak yang sebelumnya berobat di puskesmas atau rumah sakit. Bila anak tersebut mengalami gejala menyerupai campak, puskesmas atau rumah sakit tersebut wajib segera melaporkan kasus tersebut ke dinkes.
Pelaporan ini harus dilakukan untuk melakukan tindakan selanjutnya yakni pemeriksaan sampel penyakit.
“Kami sudah melakukan pendekatan dengan rumah sakit dan puskesmas untuk menyisir kondisi balita yang mengalami batuk pilek disertai panas atau ruam merah tanda khusus ini menjadi gejala klinis yang mendorong atau jadi tanda awal campak meski harus diteliti lebih lanjut,” kata Kepala Dinkes Kota Blitar, Dharma Setiawan, Jumat (27/1/23).
Secara teknis Dinkes Kota Blitar telah meminta seluruh puskesmas dan rumah sakit untuk mendata jumlah anak yang mengalami gejala seperti batuk, pilek, panas serta memiliki ruam.
Bila ditemukan anak yang mengalami gejala mirip dengan campak, maka rumah sakit harus melakukan monitoring dan pelaporan mengenai kondisi pasien.
Seluruh rumah sakit juga diminta untuk bersiap merawat dan mengobati pasien campak hingga sembuh. Meski demikian, Pemerintah Kota Blitar berharap tidak ada anak maupun balita yang terpapar penyakit campak.
“Kami telah meminta agar seluruh rumah sakit melaporkan semua yang berkaitan dengan campak, agar semua data tercatat dan teratasi dengan baik,” imbuhnya.
Optimisme Pemkot Blitar terhadap pengendalian campak pun muncul, setelah angka capaian vaksinasi campak rubella di Kota Blitar telah melebihi target. Total 98 persen balita di Kota Blitar pun menerima vaksinasi campak dan rubella.
Atas dasar itulah Pemkot Blitar berharap angka atau kasus campak di Kota Patria bisa dikendalikan. Pemkot Blitar sendiri kini juga masih terus menggencarkan vaksinasi campak dan rubella agar seluruh anak dan balita di kota tersebut bisa terhindar dari penyakit campak.
[berita-terkait number=”2″ tag=”campak”]
“Memang sulit tapi kita optimis semoga tidak ada penyakit campak, soalnya kan capaian vaksinasi campak dan rubella kami kemarin melebihi target ya 98 persen,” pungkasnya.
Adapun ciri-ciri penyakit campak adalah sebagai berikut :
1. Demam
2. Batuk Kering
3. Pilek
4. Sakit tenggorokan
5. Mata meradang
6. Rumah kulit yang tampak seperti bercak besar.
7. Bintik-bintik putih kecil dengan bagian tengah putih kebiruan dengan latar belakang merah muncul di dalam mulut, tepatnya lapisan dalam pipi.
Fase infeksi campak biasanya muncul dalam jangka waktu yang berdekatan antara 2 hingga 3 Minggu saja. Adapun fase infeksi penyakit campak tersebut adalah sebagai berikut :
1. Infeksi dan Inkubasi.
Infeksi ini akan berlangsung Selama 10 hingga 14 hari pertama setelah terinfeksi, virus campak mulai berkembang. Penderita mungkin tidak mengalami gejala campak pada tahapan ini.
2. Tanda dan gejala non spesifik.
Penyakit Campak biasanya dimulai dengan demam ringan hingga sedang, sering juga disertai dengan batuk secara terus menerus, pilek, mata meradang, dan sakit tenggorokan. Kondisi ini relatif ringan dan berlangsung dua atau tiga hari.
3. Penyakit campak berlangsung dan ruam akut. Ruam terdiri dari bintik-bintik merah kecil, beberapa ruam terasa sedikit menonjol. Bercak dan benjolan yang berkumpul membuat kulit tampak kemerahan. Kulit wajah seperti mengalami pecah-pecah. [owi/beq]






