Surabaya (beritajatim.com)- Ketika memasuki dunia perkuliahan, bukan hanya teori dan ilmu yang penting untuk dipelajari, tetapi juga kemampuan dalam menjalin hubungan sosial.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah cara membangun circle pertemanan yang sehat dan bermanfaat. Circle pertemanan sangat memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan mahasiswa. Circle yang sehat bisa membawa dampak positif yang besar, baik untuk perkembangan akademik dan juga kesehatan mental.
Sementara circle yang salah justru bisa membuatmu kehilangan arah dan menjadikanmu sulit untuk brkembang. Jika kamu ingin membangun circle yang sehat selama kuliah, kamu harus menerapkan cara-cara di bawah ini.
1. Mengenali Diri Sendiri Terlebih Dahulu
Banyak mahasiswa yang salah memilih teman karena dia tidak tahu siapa dirinya dan apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Jadi, cobalah untuk memahami kepribadian, minat, serta tujuan kuliahmu agar lebih mudah untuk menentukan circle mana yang cocok untuk dirimu. Jika kau merupakan tipe yang suka belajar bareng dan ingin fokus akademik, kamu bisa mendekat dengan teman-teman yang rajin ke perpustakaan, sementara jika kamu merupakan seseorang yang aktif di kegiatan kampus, kamu bisa membangun circle dengan orang-orang yang mempunyai semangat sama.
2. Memilih Teman yang Memberi Energi positif
Circle yang sehat biasanya bisa membuat kamu merasa nyaman dan dihargai. Teman-teman yang seperti ini tidak hanya ada saat kamu merasa bahagia, tetapi juga tetap mendukung saat kamu sedang jatuh atau kesulitan. Energi positif yang mereka bawa bisa menular dan membuat hidup kuliah terasa lebih ringan. Jadi, kalau kamu berada di sekitar orang yang penuh semangat, produktif, dan optimis, kamu akan terdorong untuk ikut berkembang.
3. Menghindari Toxic Friendship
Tidak semua circle itu baik dan cocok untuk kamu. Jika kamu sering merasa capek secara emosional setiap kamu bertemu dengan teman-temanmu, maka ini bisa menjadi tanda bahwa circlemu tidak sehat. Hubungan pertemanan seharusnya bikin kita tumbuh, bukan sebaliknya. Jadi, sangat penting untuk menjaga jarak dari cirle yang banyak membawa dampak negatif.
4. Saling Mendukung Prestasi dan Kesehatan Mental
Circle yang sehat bukan hanya sekadar kumpul untuk seru-seruan, tapi juga bisa menjadi support system. Mereka akan menyemangati kamu saat sedang berjuang di akademik, membantu kalau ada kesulitan tugas, dan tetap ada ketika kamu lagi down. Circle yang baik juga bisa menjadi tempat yang aman untuk berbagi cerita dan saling mendukung. Lebih dari itu, circle yang baik juga akan tidak akan membuatmu merasa dihakimi atau diremehkan, karena mereka benar-benar mendengarkan.
5. Tetap Jaga Batasan
Meski circle itu penting, bukan berarti kamu harus menghabiskan seluruh waktumu bersama mereka. Hubungan yang sehat tetap membutuhkan batasan agar tidak menjadi posesif atau berlebihan. Misalnya, tetap punya waktu untuk diri sendiri, keluarga, atau kegiatan di luar circle. Dengan ini, kamu tetap mempunyai ruang pribadi dan menghindarkanmu dari asa jenuh atau konflik yang sering muncul ketika terlalu sering bersama tanpa jeda.
Saat berkuliah, lebih baik kamu mempunyai sedikit teman tapi sehat daripada banyak teman tetapi toxic. Membangun circle sehat di kuliah adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan mental dan perkembangan diri. Pilihlah circle yang membuat kamu berkembang, bukan circle yang justru membuat kamu kehilangan jati diri.
[Pranata Dewi Ratna Swari]






