Mojokerto (beritajatim.com) – Desa Cembor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto kini memiliki destinasi nongkrong baru yang menyuguhkan pemandangan alam pegunungan yang memukau dengan sentuhan modern.
Black Dew, sebuah kafe yang baru dibuka pada Juni 2024, menawarkan pemandangan spektakuler Gunung Penanggungan dan Welirang yang berpadu dengan jurang alami yang jarang ditemui di tempat lain.
Berdiri di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut, Black Dew menawarkan udara sejuk dengan kabut tipis yang sering menyelimuti kawasan kafe, menciptakan suasana yang menyegarkan bagi setiap pengunjung.
Owner Black Dew, Elang Yudha Waskita, mengatakan bahwa pemilihan lokasi di Pacet–Cembor tidak terlepas dari potensi kawasan wisata yang terus berkembang. Meskipun masih berada dalam satu manajemen dengan Cafe Gartenhütte di Desa Selotapak, Kecamatan Trawas, Black Dew sengaja didesain berbeda agar memiliki karakter tersendiri.
“Kalau Gartenhütte view-nya sawah dengan konsep tradisional. Di Black Dew lebih modern, view gunung, tapi tetap nuansa alamnya terasa dengan menu modern dan tradisional serta harga yang terjangkau. Menu tradisional, kita ada soto. Untuk yang modern, kita ada steak,” ungkap Elang, alumni Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya (Ubaya), Minggu (25/1/2026).
Nama Black Dew sendiri memiliki makna filosofis. “Black” dipilih karena warna netral dan minimalis yang mencerminkan kesan elegan, dengan hampir seluruh elemen kafe yang didominasi warna hitam, mulai dari bangunan, atap, piring, gelas, hingga seragam pegawai. Sementara itu, “Dew” berarti embun, yang menggambarkan kondisi Desa Cembor yang sering diselimuti kabut dan udara sejuk.
Bangunan kafe didesain menyerupai rumah kayu dengan gaya peternakan klasik, menciptakan suasana yang hangat dan akrab. Pengunjung dapat memilih untuk duduk di area indoor yang tenang atau menikmati pemandangan hijau pegunungan di area outdoor yang fotogenik.
Keindahan alam sekitar menjadi salah satu daya tarik utama kafe ini, terutama saat senja, ketika city light mulai tampak memukau dari kejauhan.

Tak hanya mengandalkan pemandangan, Black Dew juga menyuguhkan kopi lokal dari kawasan Pacet–Trawas sebagai menu andalan. Meskipun menggunakan peralatan profesional, harga makanan dan minuman di sini tetap ramah di kantong, mulai dari Rp8.000 hingga Rp20.000.
Beberapa menu yang bisa dinikmati antara lain Jasmine Green Tea, Black Dew Choco, Pizza Crepes, Bakmie Black Dew, hingga Iga Bakar Black Dew. Black Dew juga menawarkan vibe romantis, yang membuat kafe ini menjadi pilihan populer untuk bersantai bersama pasangan, keluarga, atau teman, terutama saat matahari terbenam.
Di balik kesuksesan Black Dew, ada dampak positif yang dirasakan oleh warga sekitar. Sebanyak 45 pegawai kafe merupakan anak muda lokal Desa Cembor, dan manajemen Black Dew juga menggandeng UMKM setempat sebagai mitra.
Mereka menyediakan berbagai produk lokal, mulai dari menu makanan, suplai kebutuhan makan pegawai, hingga oleh-oleh yang dipajang di area display kafe. “Kami berharap keberadaan kafe ini bisa memberikan manfaat langsung untuk warga sekitar. Omzet cukup lumayan, tergantung ramainya Sabtu–Minggu dan tanggal merah,” tambah Elang.
Black Dew memiliki luas area sekitar 3.000 meter persegi dan dibangun sejak 2022 dengan konsep yang matang sejak awal. Berbeda dengan Gartenhütte yang dibangun bertahap, Black Dew dirancang lebih terencana dan akhirnya resmi dibuka pada 2024.
Sejak itu, jumlah pengunjung yang datang ke kafe ini terus meningkat, terutama pada akhir pekan dan hari libur nasional. Kafe yang terletak di jalur penghubung dua kecamatan, yakni Kecamatan Trawas dan Pacet, ini buka setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB.
Dengan perpaduan panorama alam, desain estetik, kopi lokal, serta pemberdayaan warga desa, Black Dew perlahan menjadi ikon baru wisata kuliner di kawasan Pacet, Mojokerto. [tin/suf]






