Mojokerto (beritajatim.com) – Setiap tanggal 3 Juli, dunia memperingati Hari Bebas Kantong Plastik Internasional (International Plastic Bag Free Day) sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya limbah plastik terhadap lingkungan sekaligus mendorong penggunaan produk yang lebih ramah lingkungan.
Di Kabupaten Mojokerto, semangat pengelolaan limbah plastik telah tumbuh jauh sebelum peringatan tersebut dikenal luas. Desa Kejagan di Kecamatan Trowulan menjadi salah satu sentra pengolahan dan pengepul rongsokan (barang bekas) yang telah berlangsung secara turun-temurun dan menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat.
Desa yang terdiri dari lima dusun, yakni Wonoasri, Muteran, Temenggungan, Kejagan, dan Sidomulyo, dikenal sebagai pusat aktivitas daur ulang sampah plastik. Selain sektor pertanian, sebagian besar roda ekonomi desa berputar dari usaha pengolahan dan perdagangan rongsokan.
Kepala Desa (Kades) Kejagan, Sri Upoyono mengatakan, usaha tersebut telah ada sejak puluhan tahun lalu dan kini diwariskan hingga generasi ketiga bahkan keempat. “Sudah lama. Saya kecil sudah ada. Bisa dibilang sekarang sudah generasi ketiga, keempat karena ini usaha keluarga yang turun-temurun,” ungkapnya, Jumat (3/7/2026).
Menurut Sri Upoyono, sekitar 80 hingga 90 persen warga Desa Kejagan menggantungkan hidup dari usaha pengepul maupun daur ulang rongsokan. Sementara warga lainnya bekerja sebagai karyawan di usaha milik tetangga atau kerabat tersebut.
“Iya, sekitar 80-90 persen punya usaha itu, sisanya mreman (jadi karyawan) di situ. Tak hanya menyerap tenaga kerja lokal, tapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga dari luar desa bahkan luar Kecamatan Trowulan. Bahkan sekarang desa-desa sebelah, warganya juga punya usaha yang sama,” katanya.
Kini, lanjutnya, aktivitas serupa juga berkembang di desa-desa sekitar seperti Desa Tawangsari dan Desa Wonorejo. Bahan baku yang diolah di Desa Kejagan pun datang dari berbagai daerah. Mulai dari Solo, Banyuwangi hingga Kalimantan.
“Barang rongsokan itu mereka dapatkan dari jauh-jauh, dari Solo, Banyuwangi, bahkan ada yang dari Kalimantan juga. Kalau dibawa ke mana saya tidak tahu pasti karena masing-masing punya tujuan berbeda. Di sini di proses, dipilah jenis dan warnanya kemudian dikirim,” ujarnya.
Di sentra pengolahan tersebut, limbah plastik terlebih dahulu dipilah berdasarkan jenis dan warna, kemudian dibersihkan sebelum dikirim kembali ke pabrik atau pembeli. Barang yang masih memiliki nilai ekonomis dijual kembali, sedangkan yang sudah tidak dapat dimanfaatkan menjadi limbah yang harus dibuang.
Sebagian besar usaha dijalankan dari rumah masing-masing dengan skala yang beragam, mulai dari kecil hingga besar. Rata-rata setiap pelaku usaha mempekerjakan lima hingga tujuh orang karyawan. Aktivitas pengolahan berlangsung setiap hari untuk memenuhi permintaan pasar.
Meski menjanjikan penghasilan, bisnis daur ulang plastik juga menyimpan risiko besar. Fluktuasi harga bahan baku membuat para pelaku usaha harus siap menghadapi keuntungan maupun kerugian. Sri Upoyono menjelaskan, jika untung memang lumayan tapi kalau rugi, juga beresiko.
“Ibaratnya kalau harga anjlok, rumah bisa ikut terjual karena rata-rata modal yang digunakan berasal dari pinjaman bank. Modalnya besar, karena mendatangkan barang dalam jumlah besar, sedangkan harga tergantung jenis barang dan tidak selalu tinggi. Kadang naik, kadang turun,” jelasnya.
Momentum Hari Bebas Kantong Plastik Internasional menjadi pengingat bahwa pengurangan penggunaan plastik sekali pakai harus berjalan beriringan dengan penguatan sistem pengelolaan sampah. Di Desa Kejagan, ribuan ton limbah plastik yang sebelumnya tidak bernilai justru menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat sekaligus bagian dari rantai ekonomi sirkular yang terus bergerak. [tin/ted]






