Ringkasan Berita
- Kirab Budaya Dusun Besuk digelar bertepatan malam Jumat Legi pada bulan Suro.
- Tradisi diikuti warga secara swadaya sebagai wujud pelestarian budaya leluhur.
- Reog Ponorogo dan jaranan menjadi daya tarik utama kirab tahun ini.
- Pemerintah desa menargetkan kegiatan masuk Kalender Event Kabupaten Kediri.
Kediri (beritajatim.com) – Kirab Budaya Dusun Besuk kembali memeriahkan tradisi sedekah bumi di Desa Toyoresmi, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Jumat (3/7/2026). Kegiatan tahunan yang digelar secara swadaya ini menjadi momentum menjaga warisan budaya sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat pada peringatan bulan Suro atau Muharram.
Ribuan warga memadati sepanjang rute kirab untuk menyaksikan arak-arakan gunungan hasil bumi, pertunjukan seni tradisional, hingga doa bersama di lokasi yang diyakini sebagai cikal bakal berdirinya Dusun Besuk.
Perwakilan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Toyoresmi, Nyamad Rachman, menjelaskan Kirab Budaya merupakan agenda rutin yang diselenggarakan setiap bulan Suro, tepatnya pada malam Jumat Legi.
Menurutnya, tradisi tersebut telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Dusun Besuk dan terus dilaksanakan melalui kolaborasi warga bersama pemerintah.
“Yang menjadi daya tarik budaya ini karena kita bersinergi dengan pihak Pemerintah Kabupaten Kediri dan juga ada jadwal setiap kali ada suran, setiap malam Jumat Legi kita agenda rutin,” jelas Nyamad.
Rute kirab dimulai dari rumah perangkat desa (Carik), kemudian menuju Pakunden Mbah Sawijoyo dan dilanjutkan ke makam Mbah Syekh Zainal Abidin yang dipercaya sebagai leluhur sekaligus cikal bakal Dusun Besuk.
Berbeda dengan penyelenggaraan tahun sebelumnya yang menampilkan Barongsai, Kirab Budaya tahun ini menghadirkan pertunjukan Reog Ponorogo dan kesenian jaranan.
Kedua kesenian tradisional tersebut menjadi hiburan yang menarik perhatian masyarakat sepanjang jalur kirab sekaligus memperkuat nuansa budaya dalam peringatan sedekah bumi.
Selain pertunjukan seni, panitia juga menghadirkan sepuluh gunungan hasil bumi sebagai simbol rasa syukur masyarakat.
Tahun ini terdapat tambahan gunungan berisi cabai, sementara salah satu gunungan utama tersusun dari sekitar 4.500 biji tahu yang menjadi produk khas masyarakat setempat.
Seluruh rangkaian Kirab Budaya Dusun Besuk terlaksana melalui swadaya masyarakat.
Partisipasi warga terlihat sejak proses persiapan hingga pelaksanaan acara, mulai dari penyusunan gunungan, penyediaan konsumsi, hingga pengamanan jalannya kirab.
Nyamad berharap tradisi tersebut terus diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal.
“Harapan kami dengan diadakannya kirab budaya semoga desa kita menjadi desa Gemah Ripah Loh Jinawi dan ke depan menjadi yang lebih baik dan lebih ramai lagi,” katanya.
Kepala Desa Toyoresmi, Gatot Siswanto, mengatakan Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dinas Pariwisata selama ini memberikan perhatian terhadap berbagai kegiatan budaya yang berkembang di desa.
Menurutnya, pada pelaksanaan tahun ini panitia belum mengajukan dukungan anggaran. Namun, usulan tersebut akan kembali diajukan agar penyelenggaraan tahun berikutnya semakin maksimal.
“Insyaallah tahun depan akan kami ajukan kembali agar kegiatan ini mendapat dukungan lebih besar dari pemerintah daerah sehingga panitia lebih terbantu,” ujar Gatot.
Ia juga mengungkapkan Kirab Budaya Dusun Besuk ditargetkan masuk dalam Kalender Event Kabupaten Kediri.
Apabila terealisasi, kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi tradisi tahunan masyarakat, tetapi juga berkembang sebagai destinasi wisata budaya yang mampu menarik wisatawan, menggerakkan ekonomi lokal, serta memperkuat identitas budaya Kabupaten Kediri. [nm/beq]






