Lamongan (beritajatim.com) – Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menghadiri kegiatan petik perdana melon hidroponik di Kebun Melon Hartono Farm Mandiri di Kecamatan Ngimbang, Minggu (2/4/2023).
Dalam kesempatan ini, Yuhronur mengungkapkan Pemkab Lamongan bertekad mengembangkan pertanian holtikultura berbasis agrowisata. Diharapkan pertanian ini dapat semakin mengungkit pertumbuhan ekonomi di kabupaten yang menyandang predikat lumbung pangan ini.
“Pemerintah Kabupaten Lamongan terus mendorong pertanian atau agrowisata, tidak hanya agrowisata semata, tapi kita upayakan bisa mengkolaborasikannya dengan pariwisata atau yang kita sebut dengan agriwisata,” tutur Yuhronur.
Dengan lahirnya Hartono Farm Mandiri ini, Yuhronur yakin nantinya dapat menjadi pusat edukasi agrowisata. Terlebih Hartono Farm ini berdiri di tanah seluas 1 hektare yang terbagi di Desa Ganggantingan (5.000 meter persegi) dan Desa Mendogo (5.000 meter persegi), dengan 9 unit green house berukuran 400 meter persegi di setiap unitnya.
Tak hanya itu, Hartono Farm ini juga mampu memanfaatkan metode tanam hidroponik DFT (Deep Flow Technique), yang mana masa panen melonnya dapat diproyeksikan.
Baca Juga:
540 Bantuan Sandang bagi Yatim Piatu Lamongan Mulai Disalurkan
Ke depan, orang nomor satu di Lamongan ini berharap, holtikultura agrobisnis di Lamongan memiliki prospek besar yang tidak hanya mampu menyediakan pasokan secara nasional, namun juga diproksikan untuk pasar ekspor.
“Keaneragaman pangan Ini menjadi peluang besar bagi Lamongan, tidak hanya tanaman pangan, tetapi juga buah-buahan holtikultura yang ditanam secara hidroponik dan menjadi kebaharuan,” beber Yuhronur.
“Saya yakin ini pertama kali di Lamongan. Mungkin di tempat lain juga pertama kali karena saya belum pernah melihat dengan memanfaatkan media air, tidak tanah, dan ini bisa dihitung masa panennya,” imbuhnya.
Manajemen Hartanto Farm Mandiri, Anton mengungkapkan, tidak ada kekhususan dalam memilih jenis melon yang ditanam di green house Hartono Farm Mandiri. Hanya saja jenis melon itu didasarkan pada market konsumen.
“Hidroponik bisa digunakan untuk semua jenis melon, namun untuk jenis yang kita tanam kita sesuaikan dengan marketnya seperti apa, jadi kita tidak bisa asal tanam. Ada 3 jenis yang kita tanam yakni melon talent (melon jepang), melon Inthanon dan melon Fujisawa. Setiap melon punya masa tanam berbeda-beda, tapi cuma beda satu dua hari saja,” terangnya.
Anton juga menuturkan, green housenya dalam sekali panen dapat mencapai sekitar 2 sampai 2,5 ton, dengan kapasistas tanam 1480 batang per unit green housenya.
Baca Juga:
Pesanan Songkok di Perajin Lamongan Naik 80% Saat Ramadhan
“Lahan 5.000 meter persegi dapat berdiri 9 unit green house berukuran 400 meter persegi per unitnya, dengan kapasitas tanam 1480 per green house. Dengan asumsi kita sekali tanam hasil yang didapatkan sekitar 2 sampai 2,5 ton,” tandas Anton.
“Nanti kalau sudah terpenuhi semua dengan jumlah sekitar 19 green house itu minimal kita per minggu bisa 1 kali panen dengan asumsi 2 sampai 2,5 ton per minggunya, dengan durasi tanam sekitar 75 sampai 80 hari. Sehingga per minggunya bisa 2 sampai 2,5 ton dengan kualitas dan kuantitas yang bisa stabil,” paparnya lagi.
Lebih lanjut, Anton menjelaskan, Kecamatan Ngimbang menjadi lokasi yang dirasa paling cocok untuk membudidayakan melon hidroponik. Pasalnya, kawasan di Ngimbang ini memiliki ketinggian, cuaca dan lingkungan sangat mendukung.
“Dengan adanya tim budidaya, kita terus coba untuk berinovasi, melihat situasi lingkungan, karena iklim dan lingkungan berbeda. Kami terus belajar meski sudah punya SOP, karena banyak hal yang mempengaruhi untuk penerapan pada tanaman seperti kadar air, cuaca dan lainnya. Sehingga tidak bisa disamakan, ada adaptasi yang harus kita kerjakan. Ngimbang memiliki ketinggian yang cocok, cuacanya bagus panas, dan faktor-faktor lainnya,” pungkasnya. [riq/beq]






