Jember (beritajatim.com) – Bupati Hendy Siswanto mencanangkan Hari Budaya Kabupaten Jember, Jawa Timur. Namun ia masih akan mendiskusikan lagi penetapan hari ini dengan para pakar sebelum mendaftarkannya ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset Pendidikan Tinggi.
“Memperhatikan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, setiap warga negara, badan hukum, komunitas berhak atas kebebasan berekspresi dan mendapatkan perlindungan atas hasil karya ekspresinya,” kata Hendy, dalam acara Asok Gelondong Pangareng-areng atau sedekah hasil bumi, di alun-alun Jember, Sabtu (4/3/3023).
“Ini artinya pemerintah berkewajiban memberikan jaminan seluas-luasnya terhadap ruang ekspresi, nilai, dan praktik kebudayaan tradisi. Pengejawantahan dari kewajiban moral ini, maka pada hari ini Pemerintah Kabupaten Jember mencanangkan Hari Budaya Kabupaten Jember,” kata Hendy.
BACA JUGA:
Warga Jember Berebut Gunungan 2.023 Buah Durian
“Tanggal 4 Maret baru pencanangannya. Tanggal (Hari Budaya Jember) belum kami tentukan. Karena hari ini ada acara sedekah bumi, maka kami gabungkan pencanangannya dulu. Nanti akan kami diskusikan dengan teman-teman akademisi dan budayawan, tentang tepatnya tanggal berapa Hari Budaya di Jember ini. Tapi yang jelas hari ini kami canangkan dan kami akan daftarkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” kata Hendy.
Pencanangan Hari Budaya Jember ini mempertimbangkan banyaknya seni budaya di Jember. “Ini bagian dari merekatkan kehidupan berbangsa dan bernegara. ‘NKRI harga mati’ harus kita tarik dari hulunya lagi: bagaimana kita mencintai budaya-budaya lokal,” kata Hendy.
Saat ini sebagian besar seni budaya dan tradisi lokal di ambang kepunahan. “Anak kami sendiri tidak mengenal macapat, atau gunungan hasil bumi. Melihatnya di Youtube, ketika ada cerita. Kenapa kok ada budaya ini, tentu karena ada pendahulunya,” kata Hendy.
BACA JUGA:
Gerindra Jember: 2 Tahun Hendy-Firjaun Lebih Baik dari Kepemimpinan Sebelumnya
Pencanangan Hari Budaya Jember ini ditandai dengan acara gunungan sedekah hasil bumi. Hendy mengatakan, sedekah hasil bumi ini merupakan warisan budaya Jember, sejak masa Kerajaan Sadeng di Kecamatan Puger. “Kita di sini merefleksikan (gunungan sedekah hasil bumi berasal dari) persembahan para petani kepada wedana yakni camat. Saya penguasanya, namanya adipati. (Narasi) ini akan kita gali ulang lagi,” katanya.
Sedekah bumi ini adalah sedekah potensi hasil bumi di 31 kecamatan. Narasi gunungan sedekah hasil bumi ini, menurut Hendy, menunjukkan sinergi antara pemerintah dan petani. “Bukan hanya hasil pertaniannya, tapi bagaimana pemerintah membantu memasarkan dan mengeksplorasinya,” katanya.
BACA JUGA:
2 Tahun Pimpin Jember, Rumah Bupati Hendy Tetap Kebanjiran
“Budaya (gunungan) ini adalah bagian dari perekat tadi. Kalau kita sudah lalai dengan budaya ini, justru akan berisiko tinggi ke depan. Lima puluh tahun, seratus tahun lagi, bagaimana Jember ke depan?” katamya.
Nantinya Pemkab Jember tak hanya memfasilitasi tradisi budaya gunungan sedekah bumi, tapi tradisi lainnya seperti budidaya perkutut. “Perkutut ini bagian dari kebudayaan. Orang dikatakan kaya kalau punya bunyi-bunyian, yakni perkutut, kalau punya turangga yakni kuda, kalau punya pusaka yaitu keris. Ini harus kita angkat. Hari Budaya ini juga mengingatkan kami untuk membantu petani dan melestarikan budaya,” kata Hendy. [wir/suf]






