Jember (beritajatim.com) – Kabupaten Jember memiliki jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhanm Gizi (SPPG) terbanyak di Jawa Timur, yakni 270 dapur. Hal ini akan berdampak luar biasa terhadap pertumbuhan ekonomi di tengah pemangkasan dana transfer dari pusat ke daerah.
“Kita tentu merasakan (pemangkasan dana transfer) kurang lebih Rp 350 miliar. Tapi ketika MBG sudah aktif semua, maka akan ada perputaran yang begitu besar, kurang lebih Rp 4 triliun,” kata Bupati Muhammad Fawait, ditulis Rabu (4/3/2026).
Jumlah ini setara dengan jumlah Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Jember yang mencapai Rp 4,3 triliun. “Bayangkan pertumbuhan ekonomi di Jember pasti akan bertambah, dan mulai banyak testimoni dari para pelaku UMKM dan petani,” kata Fawait.
Fawait mencontohkan harga komoditas jeruk yang dibudidayakan petani Kecamatan Semboro dan sekitarnya yang terdongkrak. “Ketika harga naik, pendapatan petani tentu naik, pasti buruh taninya mendapat manfaat lebih karena pendapatan mereka naik juga. Lalu uangnya dibelanjakan di Jember juga. Pasti berdampak ke toko dan warung-warung,” katanya.
Tak hanya perputaran ekonomi. MBG juga membuka lapangan kerja baru. Diperkirakan 270 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhanm Gizi (SPPG) yang beroperasi di Jember menyerap 15 ribu tenaga kerja. “Tidak mudah membuka lapangan pekerjaan. Apalagi sebanyak itu,” kata Fawait.
Pemerintah daerah tengah mengkaji penerbitan surat edaran bupati untuk memastikan pekerja yang dterima oleh SPPG adalah warga Jember. “Sesuai aturan, kami akan memprioritaskan warga kurang mampu,” kata Fawait.
Tak heran jika kemudian Bupati Muhammad Fawait mendukung penuh program andalan Presiden Prabowo Subianto tersebut. “Kebijakan baik ini perlu kita support. Tidak mungkin perfect, langsung sempurna, langsung berjalan dengan baik kebijakan ini, Namanya kebijakan besar, pasti ada kekurangan,” katanya.
Menurut Fawait, kepala daerah sudah diberi wewenang oleh presiden dalam Instruksi Presiden Nomor 115 Tahun 2025 untuk menyukseskan MBG. Inilah yang kemudian menjadi alasannya mengundang seluruh SPPG Jember, di Pendapa Wahyawibawagraha, untiuk diarahkan secara daring langsung dari Tanah Suci, Senin (2/3/2026).
Ada beberapa hal yang ingin dipastikan Fawait. “Pertama, nanti seluruh dapur harus memberikan foto makanan yang akan dibagikan kepada masyarakat yang berhak menerima MBG setiap hari. Kami bikin sistem untuk mereka melapor setiap harinya,” katanya.
Selain itu, menurut Bupati Fawait, sekolah juga melaporkan menu MBG yang diterima setiap hari. “Jadi kedua belah pihak melaporkan (ke Satuan Tugas MBG),” katanya.
Melalui surat edaran bupati, Fawait ingin memastikan bahwa produk yang dipakai SPPG berasal dari Jember. Dengan demikian perputaran uang MBG dipastikan berada di Jember. “Dan kami akan intens untuk itu,” katanya.
Bupati Fawait juga meminta masyarakat penerima MBG untuk melapor ke kanal laporan publik Wadul Guse, jika ada sajian MBG yang dinilai kurang layak. “Kami akan pantau dan panggil pihak dapur kalau memang tidak sesuai standar yang ditetapkan Badan Gizi Nasional,” katanya. [wir]






