Jember (beritajatim.com) – Pengurangan dana transfer dari pemerintah pusat ke Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, sebesar Rp 350 miliar pada tahun anggaran 2026 sempat membuat Bupati Muhammad Fawait sedih.
“Grogi enggak, Gus? Grogi kalau boleh jujur,” kata Fawait saat membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2027, di Pendapa Wahyawibawagraha, Senin (9/3/2026).
Kendati sempat sedih dan grogi, optimisme Bupati Fawait akhirnya muncul kembali. “Ke depan saya yakin pertumbuhan ekonomi di Jember, bahkan mungkin di wilayah Tapal Kuda, akan optimal. Kenapa, karena akan ada APBN yang mengalir di Kabupaten Jember sekitar Rp 4 triliun lebih,” katanya.
Bupati Fawait menyebut kehadiran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dimotori 270 satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) menggerakkan perekonomian di Jember. “Bayangkan, APBD kami kurang lebih Rp 4,3 triliun pada 2026. Akan ketambahan Rp 4 triliun,” katanya.
Fawait menyadari program MBG masih belum sempurna. “MBG kocar-kacir, yes, kita harus perbaiki. Tetapi bukan berarti MBG ini harus kita batalkan. Rugi Jember kalau dibatalkan. Rp 4 triliun, Bos,” katanya.
Kini Fawait menanti peluang kolaborasi dengan para kepala daerah di kawasan Tapal Kuda. “Apakah kita ada kerja sama atau enggak? Kalau enggak, kita akan bikin surat edaran. Kita larang MBG membeli produk dari luar Kabupaten Jember. Kalau itu terjadi, kita akan dapat tambahan Rp 4 triliun,” katanya.
“Tapi karena kita ini di wilayah Tapal Kuda, seandainya nanti ada kerja sama, mungkin kita perluaslah. Paling tidak di wilayah Tapal Kuda,” kata Fawait. Penyerapan 15 ribu tenaga kerja oleh SPPG juga diklaim Bupati Fawait bakal memperkuat perekonomian.
Kabupaten Jember memiliki posisi strategis. “MBG-nya paling banyak. karena rakyatnya paling banyak. Maka saya pikir akan menarik bagi kabupaten-kabupaten sebelah untuk bekerja sama dengan Kabupaten Jember,” kata Fawait.
Bupati Fawait ingin membantu sekolah dan pesantren yang bisa menarik santri dan pelajar dari luar wilayah Kabupaten Jember. “Kalau itu terjadi, IPM (Indeks Pembangunan Manusia) kita pasti naik, karena biasanya dalam IPM jumlah santri mungkin tidak terhitung,” katanya.
“Maka saya optimis dengan adanya MBG, walaupun perlu ada perbaikan biar tidak ngawur. Jadi jangan sampai cuma masalah masakan, kepentingan yang lebih besar justru kita korbankan. Kita bersyukur dengan jumlah penduduk yang besar, sehingga MBG di Jember nanti jumlahnya juga akan besar,” kata Fawait. [wir]






