Ringkasan Berita:
- Pemkab Banyuwangi menggelar Rembug Lansia untuk mendengar langsung aspirasi lansia dan menyusun kebijakan pembangunan yang inklusif.
- Bupati Ipuk Fiestiandani menekankan pentingnya pembangunan yang mengakomodasi lansia di tengah era penuaan penduduk Indonesia.
- Program seperti Sahabat Lansia Sebatang Kara, Cerita Ingatan Jiwa, Rantang Kasih, dan Posyandu Lansia diapresiasi sebagai inovasi pelayanan lansia.
Banyuwangi (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus memperkuat pembangunan yang inklusif dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk kalangan lanjut usia (lansia).
Salah satu langkah strategis yang dijalankan adalah melalui Rembug Lansia, forum tahunan yang menjadi wadah bagi para lansia untuk menyampaikan aspirasi, kebutuhan, serta harapan mereka secara langsung kepada pemerintah daerah.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan pentingnya pembangunan yang mengakomodasi seluruh kelompok masyarakat, seiring meningkatnya jumlah lansia. “Indonesia sudah memasuki era aging population. Maka Rembug Lansia menjadi tahapan penting untuk mendengarkan langsung kebutuhan, masukan, dan harapan para lansia tanpa perantara,” kata Ipuk, Jumat (5/6/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase lansia hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 mencapai 11,97 persen, menandai fase penuaan penduduk di Indonesia. Ipuk menambahkan, “Perubahan struktur demografi tersebut membawa sejumlah konsekuensi terkait kebijakan daerah. Rembug ini agar kita melakukan intervensi yang tepat dan terarah.”
Rembug Lansia yang digelar pada 3 Juni 2026 ini dihadiri Sekretaris Daerah Banyuwangi Suyanto Waspo Tondo Wicaksono serta perwakilan berbagai organisasi lansia, termasuk Yayasan Gerontologi Abiyoso, Komunitas Senam LTK Banyuwangi, Lembaga Veteran Republik Indonesia (LVRI), Persatuan Purnawirawan dan Warakawuri TNI-Polri (PEPABRI), dan DHC Badan Pembudayaan Kejuangan 45.
Sekretaris Daerah Banyuwangi, yang akrab disapa Yayan, menekankan bahwa seluruh aspirasi lansia akan menjadi bahan evaluasi sekaligus masukan dalam penyusunan program pembangunan daerah.
“Aspirasi Bapak-Ibu lansia akan kami jadikan bahan perencanaan pembangunan, khususnya untuk meningkatkan pelayanan publik di bidang kesehatan, kesejahteraan sosial, hingga akses terhadap fasilitas umum yang ramah lansia,” ujarnya.
Berbagai usulan disampaikan dalam forum. Salah satunya datang dari M. A. Sugianti dari PIVERI yang mengusulkan program Sahabat Lansia Sebatang Kara, berupa kegiatan anjangsana atau kunjungan rutin ke rumah lansia yang hidup sendiri.
“Kami juga berharap ada program Cerita Ingatan Jiwa, sebagai ruang berbagi pengalaman hidup sekaligus mempererat kebersamaan melalui kegiatan makan bersama para lansia,” jelasnya.
Selain itu, Sudirman memberikan apresiasi terhadap program-program yang sudah berjalan, seperti Rantang Kasih dan Posyandu Lansia, yang menyediakan layanan kesehatan serta pemeriksaan gratis bagi warga lanjut usia.
“Kami sangat menghargai Rantang Kasih, bagaimana pemkab memberikan makanan bergizi pada lansia sebatang kara yang tidak mampu. Termasuk layanan home care bagi lansia,” tuturnya.
Upaya serupa juga dilakukan melalui Rembug Anak dan Rembug Perempuan, yang menjadi bagian dari strategi Pemkab Banyuwangi untuk menjaring aspirasi masyarakat secara partisipatif dan inklusif, memastikan setiap kebijakan pembangunan menjawab kebutuhan seluruh lapisan masyarakat. [alr/suf]






