Jember (beritajatim.com) – Program Bupati Ngantor di Desa dan Kelurahan (Bunga Desaku) dilaksanakan untuk pemerataan pertumbuhan ekonomi, terutama di titik-titik kemiskinan.
Bunga Desaku adalah acara kunjungan langsung Bupati Muhammad Fawait secara bergiliran ke 226 desa dan 22 kelurahan untuk menyapa langsung masyarakat dan menyosialisasikan program-program pembangunan.
Bunga Desaku dimulai dari kawasan pinggiran dan berikutnya kawasan kota. “Dengan harapan bahwa ada pemerataan pembangunan ekonomi di Jember, termasuk di pinggir desa, pinggir kebun, pinggir hutan, dan pinggir partai,” kata Bupati Fawait, di sela-sela acara Bunga Desaku, di Kecamatan Mumbulsari, Kabupaten Jember, Selasa (7/4/2026).
Bunga Desaku tak hanya melibatkan organisasi perangkat daerah (OPD) Pemkab Jember, namun juga pemangku kepentingan dan kebijakan lainnya seperti Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Badan Pusat Statistik, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, dan BPJS Ketenagakerjaan.
Para pejabat berangkat bersama-sama dari Pendapa Wahyawibawagraha Jember dengan naik bus untuk efisiensi bahan bakar minyak di tengah ancaman krisis ekonomi dan energi global.
Selain untuk memeratakan pembangunan, Bunga Desaku juga bisa mengendalikan inflasi. “Karena kita datang ke kecamatan, ke satu daerah, kita juga melakukan semacam operasi pasar dengan membagikan souvenir yaitu sembako,” kata Gus Fawait, sapaan akrabnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang dikutip dalam Nota Penjelasan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Jember, tingkat inflasi Jember tahunan atau year-on-year pada 2025 sebesar 2,77 persen. Angja ini masih dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5+1 persen, serta di bawah tingkat inflasi nasional sebesar 2,92 persen dan Jawa Timur sebesar 2,93 persen.
Capaian inflasi ini dipengaruhi kenaikan harga kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 4,26 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,70 persen; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,30 persen; kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,03 persen.
Selain itu ada pengaruh kenaikan harga kelompok kesehatan sebesar 1,54 persen; kelompok transportasi sebesar 0,84 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,89 persen; kelompok pendidikan sebesar 0,26 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,07 persen; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 13,66 persen.
Sementara itu kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan justru mengalami deflasi year-on-year sebesar 2,56 persen. Bupati Fawait menyatakan, terjaganya tingkat inflasi di Kabupaten Jember didorong oleh sinergi yang solid dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam mengendalikan inflasi dengan strategi 4K.
Strategi 4 K ini meliputi keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Pemkab Jember melakukan operasi pasar rutin dan insidentil, percepatan gerakan tanam (Gertam), penguatan koordinasi pengamanan stok BBM dan LPG 3 kilogram, gelar pangan murah berkualitas, dan penguatan sinergi dan koordinasi lintas instansi melalui rakor pengendalian inflasi.
Bupati Fawait berencana memperbanyak kegiatan Bunga Desaku pada Mei, saat musim kemarau terdampak badai El Nino. “Bagaimana kalau seandainya kegiatan Bunga Desaku ini bisa diperbanyak di bulan-bulan itu dengan memberi souvenir sembako. Itu akan meminimalisir dampak dari efek kondisi cuaca ekstrem tersebut dan bisa menurunkan angka inflasi,” katanya. [wir/beq]






