Jombang (beritajatim.com) – Buku karya peserta ILPN (Inkubator Literasi Pustaka Nasional) tahun 2024 disikusikan secara virtual, Kamis (17/12/2024). Buku tersebut merupakan karya penulis hasil sinergi berkelanjutan Perpusnas Press, Disperpusip Jatim dan Iqro Semesta.
“Pagi ini kita patut bersyukur berkat kolaborasi bersama, bisa bertemu berdiskusi demi kemajuan literasi Jatim. Rangkaian kegiatan ILPN ini cukup panjang, sejak Juni lalu. Kita membangun ekosistem literasi yang baik,” ujar Tiat S Suwardi, Kepala Dinas Perpusip Jatim ketika membuka acara.
Tiat berharap agar hal tersebut bisa berjalan terus. Dia juga memberikan apresiasi bahwa buku yang dihasilkan luar biasa. Buku itu indah karena disusun oleh para penulis dan dibuatkan cover oleh para ilustrator yang hebat-hebat.
“Tak lupa ada antusiasme sangat tinggi, sebab terkumpul 340 naskah. Lalu menjadi 15 itu bukan pekerjaan mudah, sungguh luar biasa. Ini harus berkelanjutan, bahwa acara diskusi kali berupa pasca inkubasi, tidak berhenti setelah para pemenang ditentukan,” katanya.
Edi Wiyono dari Perpusnas Press menambahkan, penulis perlu diupayakan, kemudian diluncurkan secara resmi bersama-sama lokus lain di Indonesia. Harapannya kegiatan ini bisa direplikasi oleh Dinas. “Animo masyaralat di Jatim ini paling banyak. Buktinya naskah yang terkumpul hingga 350 lebih,” ujarnya saat membuka diskusi.
Di acara yang sama, Ketua GPMB Jatim Bambang Prakoso mengatakan, Jawa Timur bisa menjadi pelopor ekosistem literasi karena produktif melahirkan karya buku. Pihaknya senang melihat antusiasme penulis yang berpartisipasi.
Salah satu pemateri adalah Pembina Iqra Semesta Yusron Aminulloh memberikan banyak masukan. Menurutnya, penulis harus paham irama. Karena sebuah buku akan menarik dibaca tatkala alur buku indah.
“Sehingga tanpa terasa pembaca akan merasakan alur yang indah seperti mendengar lagu. Buku apa saja harus enak dibaca,” tukas Yusron Aminulloh mengawali materinya.
“Lokal konten di Jawa Timur eman-eman bila tidak ditulis. Mari kita eksekusi menjadi tulisan berupa buku mandiri,” tambah Teguh W Utomo, wartawan senior yang memberi penegasan.
Aditya Akbar, penulis yang bukunya terbit di luar negeri lebih menekankan gambaran tentang pentinganya outline. Dengan menyusun outline buku, naskah yang digarap bisa tuntas sesuai target.
“Dengan outline yang kita susun, sangat memudahkan menulis naskha buku. Saya optimis, setiap tulisan teman-teman itu, bisa diturunkan menjadi tema besar buku mandiri, silakan dilanjutkan,” tegasnya.
Diskusi itu berlangsung interaktf, durasi tiga jam tak terasa. Semua peserta antusias bahkan waktu menjadi tidak cukup. Setiap karya yang dihasilkan dari tulisan para peserta ILPN diupayakan bisa menjadi calon dari naskah buku mandiri. [suf]






