Surabaya (beritajatim.com) – Setiap tanggal 16 Juli, dunia memperingati Hari Ular Sedunia, sebuah momen penting yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap keberadaan dan peran penting ular dalam ekosistem.
Lebih dari sekadar perayaan, Hari Ular Sedunia menjadi ajakan global untuk menghapus stigma negatif tentang ular dan mendorong upaya konservasi spesies reptil ini.
Ular kerap digambarkan secara negatif dalam budaya populer dan kehidupan sehari-hari. Banyak orang merasa takut hanya dengan mendengar kata “ular”, apalagi melihatnya secara langsung. Tak heran, istilah “ular” sering dilekatkan pada sifat pengkhianatan atau kejahatan.
Namun, di balik citra menyeramkan itu, ular sesungguhnya adalah makhluk yang berperan penting menjaga keseimbangan alam.
Fakta Menarik Tentang Ular: Tidak Semua Berbahaya
Tahukah kalian bahwa terdapat lebih dari 3.500 spesies ular di seluruh dunia? Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 600 spesies yang memiliki bisa, dan hanya sekitar 200 spesies yang dianggap benar-benar berbahaya bagi manusia.
Artinya, sebagian besar ular sebenarnya tidak berbahaya dan bahkan dapat hidup berdampingan dengan manusia jika tidak diganggu.
Dalam sejarah peradaban, ular sering kali dianggap sakral dan menjadi simbol penting dalam berbagai budaya, mulai dari Mesir Kuno, India, hingga Yunani. Ular juga merupakan bagian dari garis keturunan reptil purba yang telah ada sejak zaman dinosaurus.
Kini, ular dapat ditemukan di hampir seluruh belahan dunia, kecuali Antartika. Mereka berperan sebagai predator alami yang membantu mengontrol populasi hewan pengerat dan hama lainnya, sehingga menjaga keseimbangan ekosistem tetap terjaga.
Beberapa spesies ular yang cukup dikenal di antaranya:
King Cobra: Ular berbisa terbesar di dunia yang menjadi ikon budaya di banyak negara Asia.
Rattlesnake: Ular derik khas Amerika yang bisa berbunyi saat merasa terancam.
Python Reticulatus: Salah satu ular terpanjang di dunia, dikenal karena kemampuannya membunuh mangsa dengan lilitan.
Sayangnya, tidak sedikit spesies ular yang kini terancam punah akibat kerusakan habitat, perubahan iklim, perburuan, hingga perdagangan ilegal. Banyak ular dibunuh karena kesalahpahaman manusia yang menganggap mereka sebagai ancaman, padahal justru merekalah yang membantu mengendalikan populasi hama.
Oleh karena itu, Hari Ular Sedunia ini hadir dan menjadi saat yang tepat untuk mendukung konservasi serta edukasi publik.
Cara Merayakan Hari Ular Sedunia
Hari Ular Sedunia bisa dijadikan momen reflektif dan edukatif. Berikut beberapa kegiatan yang dapat dilakukan masyarakat:
– Mempelajari fakta-fakta ilmiah tentang ular dari sumber tepercaya.
– Membagikan informasi dan kisah inspiratif seputar ular di media sosial.
– Mendukung program konservasi dan pelestarian ular di habitat aslinya.
– Memberikan donasi untuk organisasi yang fokus pada pelestarian reptil.
Peringatan Hari Ular Sedunia bukan hanya soal reptil itu sendiri, tapi juga soal bagaimana manusia bisa hidup berdampingan dengan makhluk lain di bumi ini. Ular bukan hanya simbol ketakutan, tetapi juga bagian penting dari keanekaragaman hayati yang perlu dijaga.
Dengan memahami peran ular dan menghapus stigma negatif, kita turut andil dalam menjaga keseimbangan alam dan masa depan ekosistem. (mnd/but)






