Surabaya (beritajatim.com) — PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) semakin mengukuhkan posisinya sebagai bank utama pembiayaan perumahan rakyat di Indonesia. Hingga akhir September 2025, BTN telah menyalurkan 142.743 unit KPR Sejahtera FLPP, sebuah angka masif yang setara dengan 81,8 persen dari total penyaluran nasional. Capaian ini menjadikan BTN sebagai tulang punggung utama dalam pelaksanaan Program Tiga Juta Rumah dan upaya percepatan penurunan backlog perumahan.
Di tengah keberhasilan penyaluran yang impresif, Komite Danantara Asset Management (DAM) mengingatkan pentingnya prinsip kehati-hatian dan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance/GCG).
Saat meninjau proyek perumahan bersubsidi di Pasuruan, Jawa Timur, Komisaris Independen DAM, Agus Sugiarto, menegaskan bahwa keberhasilan ini harus diimbangi dengan transparansi dan akuntabilitas kuat. “Keberhasilan ini perlu diimbangi dengan penerapan GCG yang kuat, agar setiap rumah yang dibiayai benar-benar sampai ke masyarakat yang berhak dan memberi dampak sosial yang nyata,” ujar Agus Sugiarto.
Agus Sugiarto juga memberikan apresiasi terhadap inovasi BTN yang membuka akses pembiayaan bagi pekerja informal dan wirausaha kecil, namun menekankan agar mekanisme pengawasan terus diperkuat demi keberlanjutan program.
Senada, Komisaris DAM, Bambang Sugeng Rakmono, menyoroti pentingnya arah kebijakan pembiayaan perumahan ke depan yang lebih berwawasan lingkungan (green housing). Menurutnya, integrasi aspek keberlanjutan akan memperkuat peran sektor perumahan dalam mendukung target pengurangan emisi karbon.
Secara regional, BTN mencatat kinerja yang sangat dominan di Provinsi Jawa Timur. Dengan penyaluran 10.243 unit KPR Sejahtera FLPP, bank ini berhasil menguasai 78,3 persen pangsa pasar dari total 13.069 unit rumah subsidi di wilayah tersebut.
Direktur Consumer Banking BTN, Hirwandi Gafar, menjelaskan bahwa kinerja kuat ini mencerminkan solidnya ekosistem yang dibangun BTN bersama pemerintah dan pengembang lokal. Jawa Timur sendiri berkontribusi sekitar 6,6 persen terhadap total penyaluran program FLPP nasional.
“Kami menjaga konsistensi agar masyarakat berpenghasilan rendah semakin mudah memiliki rumah. Keberhasilan ini juga hasil kolaborasi erat dengan pengembang lokal, termasuk dukungan terhadap percepatan sertifikasi tanah dan penyaluran dana subsidi melalui mekanisme digital,” kata Hirwandi.
BTN juga mencatat lonjakan partisipasi perempuan, di mana sekitar 32,7 persen penerima KPR subsidi BTN merupakan perempuan, menandai komitmen BTN dalam memperluas akses kepemilikan rumah yang setara dan inklusif di seluruh lapisan masyarakat.
BTN menilai, program KPR subsidi ini tidak hanya menyelesaikan masalah hunian, tetapi juga menciptakan efek ekonomi berantai yang signifikan di tingkat lokal. Setiap proyek perumahan mendorong penyerapan tenaga kerja di sektor konstruksi, peningkatan permintaan material bangunan, serta pertumbuhan sektor pendukung lainnya.
Selain di sisi demand (pembiayaan konsumen), BTN juga memainkan peran ganda dalam mendukung Program 3 Juta Rumah, yaitu di sisi supply. Melalui Kredit Program Perumahan (KPP), BTN menyalurkan pembiayaan bagi pengembang, kontraktor, hingga pemasok bahan bangunan.
Lebih dari itu, BTN juga berfungsi sebagai integrator ekosistem perumahan nasional melalui pendirian Housing Finance Center, sebuah pusat pembelajaran, konsultasi, dan riset yang bertujuan memperkuat sinergi antara pemerintah, pengembang, dan masyarakat.
“Program KPR subsidi bukan hanya tentang rumah, tapi juga tentang pembentukan karakter dan kecerdasan insan Indonesia serta tentang aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekelilingnya,” tutup Hirwandi Gafar.[rea]






