Jember (beritajatim.com) – Kabupaten Jember, Jawa Timur, memiliki lima kekuatan utama yang menjadi modal penjenamaan kota atau city branding untuk pariwisata. Namun ada sejumlah prasyarat yang harus dipenuhi dan kelemahan yang harus dibenahi untuk membangun citra kota.
Kekuatan utama itu meliputi antara lain potensi alam yang majemuk dari pegunungan Argopuro hingga pantai-pantai eksotis di selatan, dan kekayaan budaya Pandalungan yang merupakan perpaduan budaya unik dan otentik yang tidak dimiliki daerah lain.
“Ada juga ekonomi kreatif yang dinamis. Jember memiliki ekosistem industri kreatif yang kuat, yang bisa diintegrasikan ke dalam produk wisata,” kata Sekretaris Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Jember Wahyu Setyabudi, Kamis (7/8/2025).
Modal lainnya adalah Jember Fashion Carnaval yang sudah mendunia. “JFC bisa menjadi pintu masuk untuk mempromosikan destinasi Jember secara keseluruhan,” kata Setyabudi.
Terakhir, lanjut Setyabudi, Jember memiliki potensi agrikultural yang kaya. “Jember penghasil tembakau, kopi, dan kakao yang dapat dikembangkan menjadi agrowisata yang menarik,” katanya.
Namun, Setyabudi menyarankan agar sebelum mendesain penjenamaan kota, Pemerintah Kabupaten Jember memperbaiki beberapa kelemahan. “Belum adanya Peraturan Daerah Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Kabupaten Jember menyebabkan pembangunan pariwisata berjalan parsial dan sektoral,” katanya.
Padahal, kata Setyabudi, penjenamaan kota seharusnya didasarkan pada Ripparkab sehingga bisa menjadi pedoman bagi semua pihak.
Koordinasi dan sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam merumuskan dan menjalankan program pariwisata. menurut Setyabudi masih kurang optimal.
“Beberapa destinasi masih memerlukan sentuhan perbaikan infrastruktur dasar dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) pariwisata, terutama dalam hal pelayanan prima dan penguasaan teknologi,” katanya.
Persoalan terakhir yang perlu diatasi adalah konsistensi promosi. “Jember belum memiliki identitas branding destinasi yang kuat dan upaya promosi yang terarah secara konsisten,” kata Setyabudi.
Setyabudi menyarankan Pemkab Jember untuk membangun citra pariwisata dengan pendekatan yang terstruktur dan melibatkan semua pihak.
“Pertama, harus berbasis pada kekuatan unik Jember,dan bukan hanya mengandalkan event besar seperti JFC. Narasi branding harus menonjolkan kekayaan alam atau ekowisata, budaya Pandalungan, dan potensi pertanian agrowisata,” katanya.
Selain itu, menurut Setyabudi, strategi branding dan promosi harus terpadu, gencar, dan memanfaatkan kanal-kanal modern, terutama media digital, untuk menjangkau target pasar yang lebih luas.
“Dalam konteks ini, BPPD seharusnya memiliki peran yang sentral dalam penciptaan dan implementasi city branding pariwisata. Sesuai Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, BPPD memang dibentuk untuk mengoptimalkan promosi,” kata Setyabudi.
Bupati Hendy Siswanto sudah menandatangani surat keputusan pembentukan BPPD Jember. “Oleh karena itu, BPPD sebaiknya dilibatkan sejak awal dalam perumusan strategi branding bersama Pemerintah Daerah dan stakeholder lainnya,” kata Setyabudi.
“BPPD harus menjadi ujung tombak dalam mengkomunikasikan branding tersebut kepada khalayak. Namun, untuk bisa menjalankan peran ini secara efektif, BPPD Jember memerlukan landasan hukum yang kuat dalam bentuk perda, bukan hanya SK Bupati, dan poin krusial yang kami usulkan untuk diakomodasi dalam pembahasan Ripparkab Jember,” kata Setyabudi.
Sebelumnya, Bupati Muhammad Fawait menyatakan, tengah mendesain penjenamaan kota atau pencitraan kota (city branding) ‘Jember Miniature of Indonesia; untuk Kabupaten Jember, Jawa Timur. “Kita punya banyak kampus, kita punya banyak suku, punya banyak golongan, sehingga tidak perlu jauh-jauh keliling Indonesia, cukup datang ke Jember,” katanya. [wir]






