Surabaya (beritajatim.com) – Dinamika internal Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) memasuki babak penting lewat Konsolidasi Kongres Persatuan Season #2 yang digelar Badan Pekerja Kongres (BPK) GMNI di Balai Pemuda Surabaya dan platform Zoom Meeting, Minggu (13/7/2025).
Konsolidasi ini mempertemukan seluruh Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GMNI se-Indonesia dari dua kubu kepemimpinan DPP Arjuna Putra Aldino dan DPP Imanuel Cahyadi untuk bersama-sama menata kembali arah perjuangan organisasi.
Dengan tema “Persatuan untuk Regenerasi Kepemimpinan Progresif dan Relevan”, forum ini menetapkan agenda utama menyusun regenerasi kepemimpinan dan membentuk panitia independen bersama melalui Badan Pekerja Kongres Nasional (BPKN). Steering Committee dipimpin Sulthoni Edgar D, sementara Organizing Committee diketuai Danang Adi.
Ketua BPK, Surya Dwi Hadmaja, menegaskan bahwa forum ini adalah ikhtiar serius untuk keluar dari kebuntuan sejarah GMNI dan membangun arah baru organisasi yang bebas dari kutukan konflik internal. Ia menekankan pentingnya mengakhiri siklus saling serang antar-kubu demi masa depan organisasi yang sehat dan relevan.
“Kongres ini harus jadi titik balik untuk memotong rantai dendam sejarah kedua kubu yang hanya menciptakan kanibalisme organisasi. Kita harus kembali pada prinsip: Hidup-hidupilah GMNI, jangan mencari penghidupan di GMNI. Sekali Marhaenisme, tetap Marhaenisme!” tegas Surya saat dihubungi, Selasa (15/7/2025).
Dalam konsolidasi tersebut, peserta menyepakati pembentukan panitia bersama yang melibatkan DPC dari kedua kubu, termasuk cabang-cabang dari Jawa Timur, Jawa Barat, dan Sumatera. Langkah ini diyakini dapat memperkuat legitimasi dan inklusivitas Kongres Persatuan XXII GMNI yang akan digelar di Surabaya pada Agustus–November 2025.
Menyikapi putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang menyatakan masa jabatan Imanuel Cahyadi dan Sujahri Somar telah berakhir pada 2022, BPK menilai kedua kepengurusan DPP saat ini tidak lagi memiliki dasar hukum untuk menjalankan roda organisasi. Oleh karena itu, BPK menegaskan perlunya konsolidasi independen yang bertumpu pada AD/ART GMNI.
“Kehadiran BPK adalah langkah strategis menyelamatkan organisasi berdasarkan kepentingan bersama. Ini bukan tentang menang-menangan, tapi mengembalikan GMNI ke marwah perjuangan sejati,” ujar Surya, didampingi Sekretaris BPK, Lazuardi Vivekananda Putrawardana.
Di sisi lain, atmosfer menjelang Kongres di Bandung justru dinilai lesu dan penuh ketidakpastian. Isu penolakan dari beberapa DPC, ketidakjelasan venue, hingga kabar konsolidasi alternatif di Blitar menambah keraguan di kalangan kader terhadap kredibilitas kongres yang digagas oleh salah satu kubu.
“Vibes kongres di Bandung sangat lemah, tidak terasa semangatnya. Belum ada kepastian teknis dari panitia nasional maupun lokal, bahkan venue pun belum jelas. Ini justru meningkatkan turbulensi menjelang langkah persatuan,” tambah Surya.
Meski situasi masih penuh dinamika, BPK mengimbau seluruh kader GMNI untuk tetap menjaga integritas dan menjauhi provokasi. Surya menekankan bahwa upaya persatuan ini membutuhkan kepercayaan, kesabaran, dan komitmen kolektif seluruh pihak.
“Kita tidak sedang bertanding untuk kekuasaan semu, tapi sedang membangun kembali rumah ideologis yang hampir roboh karena konflik tak berkesudahan. Kongres ini adalah momentum menyambut Indonesia Emas 2045, dan GMNI harus jadi pelopor perubahan,” tutupnya. [asg/but]






