Malang (beritajatim.com) – Pandemi Covid-19 mendorong perubahan perilaku dan cara berinvestasi sebagian besar orang. Apalagi saat ini muncul beragam jenis investasi berbasis online yang semakin memudahkan orang untuk mendapatkan keuntungan di manapun dan kapanpun hanya dengan bemodalkan ponsel pintar.
Melihat fenomena ini, PT Bestprofit Futures Malang bersama dengan PT Bursa Berjangka Jakarta, PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) dan Universitas Brawijaya menggelar Investment Outlook 2022 dengan tema Pilihan Cerdas Investasi di Era New Normal.
Pimpinan Cabang PT Bestprofit Futures Malang, Andri mengatakan bahwa saat ini pilihan investasi semakin beragam. Terutama di era new normal pada masa pandemi, banyak pergeseran investasi konvensional menjadi online dan jenis investasi baru mulai hadir.
“Yang jelas, sebelum kita memutuskan instrumen investasi yang tepat, kita harus tahu tujuan dan target jangka waktu yang kita inginkan untuk mendapatkan return dari portfolio investasi yang kita tempatkan,” ujar Andri.
[berita-terkait number=”5″ tag=”UB”]
Sebagai contoh, properti, dan obligasi, lanjut dia merupakan investasi yang menjanjikan dari sisi return, namun bersifat jangka panjang. Sementara jika ingin mendapatkan return yang positif dan bersifat likuid, maka Perdagangan Berjangka bisa menjadi pilihan alternatif. Terutama untuk produk emas.
“Terbukti di mulai sejak tahun 2020 ketika Covid-19 awal-awal melanda, harga emas langsung mencuat. Bahkan hingga menyentuh harga hampir Rp2 juta/gr atau $ 1.970/toz,” imbuhnya.
Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta, Stephanus Paulus Lumintang menjelaskan, akibat Covid-19 melanda telah terjadi perubahan radikal dalam kehidupan dan perputaran ekonomi sehingga dibutuhkan fleksibilitas dalam segala hal.
“Di tahun 2022, Pemerintah Republik Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,8 persen -5,9 persen. Tingkat optimisme ini karena terjadi super cylce commodity. Sejak akhir 2021, sejumlah harga komoditi mengalami lonjakan harga seperti CPO, Kopi, Kakao dan komoditi lainnya. Hal ini berimbas positif terhadap return pada kontrak komoditi di pasar bursa berjangka,” papar Paulus.
Kemudian Ekonom Universitas Brawijaya, Wildan Syafitri mengatakan bahwa faktor kenaikkan harga komoditas saat ini disebabkan oleh suply chain yang mengalami penurunan. Dengan tren peningkatan harga tersebut mendorong terjadinya volatilitas yang membuat nilai perdagangan kontrak berjangka komoditi semakin menarik di bursa berjangka.
Adapun faktor yang mempengaruhi Bursa Berjangka antara lain Consumer Confidence Index, Consumer Price Index, stock Market Index, Suku bunga, money supply dan gross domestic product. “Hasil dari pasar India menunjukkan bahwa variabel makroekonomi nasional, dan internasional memiliki kesan positif pada volatilitas pasar komoditi,” kata Wildan.
Sementara itu, Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero), Fajar Wibhiyadi mengatakan, saat ini masyarakat dihadapkan pada berbagai peluang investasi yang cukup menjanjikam dengan transaksi yang semakin mudah dan cepat. Namun masyarakat juga harus menjadi investor yang cerdas dengan memilih perusahaan investasi yang legal dan terdaftar di badan pengawas pemerintah.
“Khusus di pialang berjangka maka harus diperhatikan dulu apakah pialang tersebut terdaftar atau tidak di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi. Selanjutnya pelajari risiko. Setiap investasi memiliki risikonya sendiri. Semakin tinggi tingkat return yang dihasilkan maka semakin tinggi pula risikonya. Jangan pernah tergiur dengan tawaran fixed income,” tandasnya. (luc/kun)






