Mojokerto (beritajatim.com) – Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur ekskavasi Situs Gemekan di Dusun Kedawung, Desa Gemekan Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Ekskavasi dilakukan selama enam hari, mulai tanggal 7 sampai 12 Februari 2022 yang melibatkan Tim Arkeologi BPCB Jatim.
Situs Gemekan berada di berupa gundukan tanah setinggi 190-200 cm dengan luas 12 x 12 meter persegi di sawah milik Mukid, warga setempat. Ekskavasi dilakukan untuk menampakkan struktur purbakala yang diduga candi peninggalan Majapahit yang selama ini dianggap angker oleh masyarakat.
Tanah yang menimbun struktur purbakala di Situs Gemekan tidak pernah digali warga. Padahal, sawah di sekelilingnya bekas digali untuk produksi bata merah. Terdapat beberapa sebaran batu bata dengan dimensi cukup besar. Situs Gemekan sudah didata BPCB Jatim pada tahun 2017 lalu.
Ketua Tim Ekskavasi Situs Gemekan, Muhammad Ichwan mengatakan, ekskavasi baru dilakukan setelah ada anggaran ekskavasi yang diperoleh dari bantuan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kaloka Malang senilai Rp50 juta. “Selama 6 hari difokuskan pada gundukan tanah 12 x 12 meter persegi di Situs Gemekan,” ungkapnya, Selasa (8/2/2022).
Karena terbatasnya waktu, sehingga langsung dikerahkan sebanyak 30 orang yang terdiri dari 10 tenaga teknis arkeologi dan 20 tenaga penggali. Fokus ekskavasi berusaha mengejar denah dan menampilkan bentuk struktur situs untuk mengetahui ukuran setiap sisi. Selama enam hari, pemilik mendapatkan uang sewa sebesar Rp2 juta.
“Berdasarkan hipotesis, Situs Gemekan merupakan candi peninggalan Majapahit. Terdapat struktur yang sudah tampak pada sisi barat situs. Bangunan dari bata merah kuno ini sepanjang 180 cm, tinggi 90 cm, tebal 40 cm. Struktur ini masih berlanjut ke selatan, utara dan timur. Masing-masing bata penyusunnya berdimensi 32x22x7 cm dan 32x22x6 cm,” jelasnya.
Menurutnya, hipotesis Tim BPCB Jatim menyebut jika bangunan candi tersebut dilengkapi pagar keliling. Dinding yang tersusun batu bata berwarna merah pada sisi utara ditemukan banyak yang rusak. Hanya tersisa empat lapis. Indikasinya terdapat profil penampil di struktur yang sudah nampak di sisi barat.
“Hasil proses penggalian sementara di dinding 4 kotak sisi selatan dan barat, tim menemukan indikasi berfosil atau terdapat semacam penampilan arsitektur. Namun belum terlihat jelas. Kita masih berusaha mengejar denahnya dulu sambil menyisir bagian utara dan atas,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”situs-majapahit”]
Ichwan menjelaskan, jika biasanya bangunan candi di Jawa Timur arah menghadap ke barat ditandai tangga dengan penampil di sisi barat. Penggalian sementara panjang sisi barat berukuran 6 meter. Sedangkan sisi selatan berukuran 6,2 meter. Menurutnya, batu bata yang tersusun ukurannya lebih tebal dibanding dengan situs-situs lainnya.
“Batu bata ukurannya lebih tebal dibanding dengan situs-situs lainnya yang ada di wilayah sekitar, terutama Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Ketebalannya 5 sampai 7 sentimeter dengan panjang dan tinggi 32 x 25 sentimeter. Tentunya ini agak lebar dibanding dengan batu bata situs lainnya di sekitar, utamanya Trowulan,” urainya.

Tim akan menggali lebih dalam untuk mengetahui kedalaman permukaan Situs Gemekan. Sejauh ini, pihaknya belum bisa menyimpulkan apakah Situs Gemekan tersebut merupakan bangunan candi atau yang lain. Namun, lanjut Ichwan, yang pasti ada bagian yang menampil atau menjorok.
“Nah ini bagian yang menarik. September tahun lalu kami foto menggunakan drone, posisi gundukan letaknya hampir simetris (di tengah-tengah) dengan struktur-struktur yang kami duga pagar keliling candi. Struktur pagar keliling candi ditemukan pada ekskavasi tahun 2003 silam,” lanjutnya.
Yakni struktur di barat daya dari gundukan yang memanjang dari barat ke timur, struktur di sisi barat laut yang membentang dari utara ke selatan, serta struktur di sisi utara yang membentang dari barat ke timur. Ekskavasi selama enam hari tersebut diharapkan bisa menampakkan struktur purbakala yang diduga candi peninggalan Majapahit. [tin/ted]






