Pamekasan (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pamekasan mulai melakukan asesmen dan pemetaan terhadap sejumlah desa rawan kekeringan dan berpotensi kekurangan air bersih saat musim kemarau.
“Saat ini kami tengah melakukan proses asesmen guna memastikan persiapan penyaluran bantuan air bersih bagi masyarakat terdampak kekeringan di Pamekasan,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Pemkab Pamekasan, Akhmad Dhofir Rosidi, Minggu (23/6/2024).
Berdasar laporan dari para perangkat desa, jumlah desa berpotensi mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih tersebar di sebanyak 83 titik dari total 178 desa se Pamekasan.
“Jumlah ini bertambah dibanding 2023 lalu, sebab pada kemarau tahun lalu titik kekeringan tersebar di 77 titik di 11 kecamatan berbeda di Pamekasan. Artinya ada tambahan 6 titik kekeringan dibanding tahun lalu,” ungkapnya.
Dari data tersebut, jumlah kecamatan terdampak kekeringan dan berpotensi kekurangan air bersih berkurang dibanding tahun lalu, yakni dari 11 menjadi 10 kecamatan berbeda. “Angka 83 desa yang dilaporkan ini masih dinamis, karena saat ini kita tengah melakukan proses asesmen,” imbuhnya.
Jenis kekeringan di Pamekasan, dikatagorikan menjadi dua jenis berbeda, yakni kekeringan langka dan kekeringan kritis. “Kekeringan kritis terjadi karena pemenuhan air di dusun mencapai 10 liter lebih per orang per hari. Jarak yang ditempuh masyarakat untuk mendapatkan air bersih sejauh 3 kilometer bahkan lebih,” jelasnya.
“Sementara yang dimaksud dengan kering langka, kebutuhan air di dusun itu di bawah 10 liter saja per orang per hari. Jarak tempuh dari rumah warga ke sumber mata air terdekat sekitar 0,5 kilometer hingga 3 kilometer,” sambung Dhofir.
Pada 2023 lalu, jumlah desa yang mengalami kekeringan langka sebanyak 47 desa, sisanya mengalami kekeringan kritis. “Kalau tahun ini kami belum bisa menentukan karena pendataan oleh tim masih berlangsung,” pungkasnya. [pin/but]






