Pasuruan (beritajatim.com) – Kondisi pembinaan olahraga di Kota Pasuruan sedang berada di titik nadir akibat pemangkasan anggaran bonus bagi para peraih medali. Para atlet merasa perjuangan mereka di ajang Porprov IX Jatim 2025 tidak mendapatkan apresiasi yang layak dari pemerintah daerah.
Kekecewaan ini memicu kabar adanya eksodus besar-besaran atlet berprestasi yang berencana membela kabupaten atau kota tetangga. Mereka menilai daerah lain jauh lebih menghargai keringat dan dedikasi atlet melalui fasilitas serta jaminan kesejahteraan yang lebih baik.
“Baju kontingen saja kita cuma diberi jaket, sementara daerah lain dapat paket lengkap seperti kaus dan celana,” keluh Nur Alam Al-Ghozi, atlet bela diri MMA Kota Pasuruan. Ia menambahkan bahwa kebutuhan vital seperti vitamin dan nutrisi selama latihan terpaksa harus ditanggung menggunakan dana pribadi.
Minimnya dukungan ini dirasa sangat kontradiktif dengan prestasi yang selama ini disumbangkan oleh cabang olahraga bela diri. Padahal, sektor bela diri secara konsisten menjadi lumbung medali bagi Kota Pasuruan dalam empat edisi Porprov terakhir.
Asisten pelatih sasana BOSS, Wahyu Kurniawan, menyebut pemerintah seolah menutup mata terhadap konsistensi prestasi para atletnya. Dirinya sangat menyayangkan penurunan nilai apresiasi yang terjadi secara drastis pada tahun ini dibandingkan periode sebelumnya.
“Tahun ini bonus emas turun jauh menjadi Rp10 juta, padahal pada 2023 lalu nilainya masih mencapai Rp30 juta,” ungkap Wahyu Kurniawan saat merinci pemangkasan reward tersebut. Penurunan yang mencapai angka 70 persen ini dianggap sebagai pelemahan semangat juang bagi para talenta muda.
Persoalan sarana dan prasarana juga menjadi kendala klasik yang tak kunjung mendapatkan solusi konkret dari pihak terkait. Tanpa adanya dukungan fasilitas yang memadai, masa depan regenerasi atlet di Kota Pasuruan diprediksi akan semakin suram.
Para atlet dan pelatih kini berharap adanya evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan anggaran olahraga agar talenta lokal tidak hilang. Jika tidak ada perubahan signifikan, Kota Pasuruan terancam kehilangan aset terbaiknya yang memilih hijrah demi masa depan yang lebih terjamin. (ada/but)






