Pasuruan (beritajatim.com) – Gelombang protes kini menghantam Pemerintah Kota Pasuruan setelah kebijakan pemangkasan bonus bagi atlet berprestasi pada ajang PORPROV IX Jatim resmi diumumkan. Para atlet dan pelatih merasa dikhianati karena nilai apresiasi yang diberikan jauh dari komitmen awal serta dianggap tidak sebanding dengan perjuangan di lapangan.
Kekecewaan ini mencuat lantaran insentif untuk peraih medali emas yang semula dijanjikan mencapai puluhan juta rupiah, kini merosot tajam hingga menyentuh angka minimal. Hal ini dianggap sebagai preseden buruk bagi masa depan pembinaan pemuda di Kota Pasuruan, terutama dalam ajang olahraga bergengsi tingkat nasional maupun provinsi.
“Jujur kami sangat kecewa karena nilainya jauh dari Porprov sebelumnya, padahal proses latihan intensif dilakukan lebih dari satu tahun,” tegas Sekretaris IBC MMA Kota Pasuruan, Frenky Sutejo.
Cabor IBC MMA sendiri merupakan salah satu penyumbang medali terbanyak bagi Kota Pasuruan dengan raihan satu emas, dua perak, dan dua perunggu. Namun, prestasi gemilang tersebut seolah tidak mendapatkan tempat yang layak di mata pemerintah daerah yang justru memangkas hak para atlet.
Kritik pedas juga datang dari cabang olahraga panahan yang merasa harga diri atletnya dijatuhkan dengan nilai bonus yang tidak wajar. Pelatih menilai pemerintah sama sekali tidak menghargai tingginya biaya peralatan dan pengorbanan fisik yang dikeluarkan demi mengharumkan nama kota.
[irp posts=”1480314″ ]
“Emas sekarang hanya dapat Rp10 juta, sama dengan bonus perunggu tahun 2023, ini benar-benar tidak menghargai perjuangan atlet,” ujar Indah Yulianti, pelatih Cabor Panahan Kota Pasuruan.
Ketidaksiapan anggaran daerah untuk memberangkatkan atlet secara maksimal juga menjadi bukti lemahnya dukungan pemerintah terhadap pengembangan potensi pemuda. Banyak atlet potensial yang terpaksa gagal berangkat hanya karena alasan ketiadaan dana, yang dinilai sangat memalukan bagi setingkat pemerintah kota.
Kondisi ini dikhawatirkan akan memicu eksodus besar-besaran atlet berprestasi Kota Pasuruan untuk pindah membela daerah lain yang lebih peduli. Jika komitmen wali kota terhadap olahraga tidak segera diperbaiki, prestasi pemuda Pasuruan diprediksi akan terus merosot akibat minimnya dukungan moral maupun materiil.
“Kasihan atlet tidak ada harganya, bisa-bisa tahun depan mereka lari ke luar karena Pemkot tidak mendukung 100 persen,” pungkas Indah dengan nada kecewa. [Ada/aje]






