Bondowoso (beritajatim.com) – Kabupaten Bondowoso mencetak sejarah baru dalam pembangunan ekonomi berbasis desa dengan meluncurkan 219 Koperasi Merah Putih secara serentak pada Senin (21/7/2025). Peluncuran ini bertepatan dengan peresmian nasional oleh Presiden Republik Indonesia dalam rangka peringatan Hari Koperasi Nasional ke-78.
Langkah ini menempatkan Bondowoso sebagai salah satu kontributor terbesar dalam gerakan pembentukan 80.081 koperasi di desa dan kelurahan se-Indonesia. Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, menyatakan bahwa program ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk nyata komitmen daerah dalam menghidupkan kembali semangat gotong royong, kemandirian, dan keadilan sosial.
“Koperasi Merah Putih bukan sekadar unit usaha. Ini adalah gerakan ideologis yang menempatkan rakyat desa sebagai pelaku utama ekonomi nasional,” tegas Bupati dalam pidatonya.
Ia menjelaskan bahwa koperasi ini dirancang untuk mengatasi tantangan ekonomi desa seperti minimnya akses permodalan, rendahnya nilai tambah produk pertanian, serta ketimpangan distribusi barang dan jasa. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh camat, kepala desa, tokoh masyarakat, dan pemuda untuk terlibat aktif, bukan hanya menjadi penonton dalam gerakan ini.
Sekretaris Daerah Bondowoso, Fathur Rozi, menambahkan bahwa proses pendirian koperasi telah melalui tahapan legal formal secara menyeluruh. Mulai dari musyawarah desa khusus (musdessus) dan musyawarah kelurahan khusus (muskelsus) yang tuntas di 209 desa dan 10 kelurahan pada 28 Mei 2025, hingga penerbitan akta pendirian dan surat keputusan badan hukum dari Kementerian Hukum dan HAM per 30 Juni 2025.
“Dengan demikian, 219 koperasi ini resmi dan siap beroperasi,” ujar Sekda.
Untuk menjamin keberlanjutan, Pemkab Bondowoso juga membentuk Satuan Tugas Koperasi Merah Putih melalui SK Bupati. Satgas ini memiliki mandat tidak hanya dalam pembentukan awal, tetapi juga dalam pendampingan, pembinaan, dan penguatan kelembagaan koperasi ke depan.
Bupati Hamid menjelaskan bahwa koperasi akan memanfaatkan aset desa yang sudah ada seperti balai desa, sekolah tidak terpakai, atau bangunan publik lainnya. Unit usaha yang akan dijalankan mencakup outlet sembako, agen gas Elpiji, apotek desa, gudang pengering hasil pertanian, dan unit simpan pinjam—disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan desa masing-masing.
“Kami percaya, jika koperasi ini dikelola berbasis data dan potensi lokal, maka koperasi akan tumbuh sehat, mandiri, dan berkelanjutan,” ucapnya.
Bondowoso yang dikenal dengan kekayaan alam dan potensi pertanian yang besar, dinilai memiliki peluang besar untuk menjadikan koperasi sebagai motor penggerak ekonomi desa. Koperasi modern yang dikelola profesional diyakini mampu menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang inklusif dan berdaulat.
Program Koperasi Merah Putih merupakan bagian dari implementasi Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden, khususnya dalam upaya mewujudkan swasembada pangan, penciptaan lapangan kerja berkualitas, serta pemerataan ekonomi dari desa guna mengatasi kemiskinan struktural.
Pemkab Bondowoso memastikan pendampingan berkelanjutan agar koperasi yang telah berdiri tidak hanya legal secara administratif, tetapi juga mampu berfungsi secara produktif dan membawa dampak nyata bagi masyarakat.
“Langkah ini bukan hanya sejarah nasional, tapi juga momentum lokal bagi Bondowoso untuk bangkit sebagai daerah pelopor ekonomi kerakyatan,” tutup Bupati Hamid. [awi/beq]






