Surabaya (beritajatim.com) – Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur Maria Ernawati mendorong agar remaja Madiun peduli terhadap isu stunting. Menurutnya, institusi pendidikan menjadi mitra strategis untuk mewujudkan program tersebut.
Erna mengatakan, dengan semakin banyaknya Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) maka akan semakin banyak pula remaja yang memahami isu tentang kependudukan dan stunting.
Salah satu peran program SSK adalah Pelajar Peduli Stunting atau Pelajar Penting. Erna berharap, lingkungan sekolah baik guru ataupun murid bisa memahami isu-isu kependudukan.
“Karena perubahan perilaku itu susah sekali. Nah kalau bisa diintegrasikan melalui SSK dan Pelajar Penting, bukan tidak mungkin kita bisa mewujudkan cita-cita bersama yaitu mewujudkan generasi emas,” kata Erna, Senin (27/3/2023).
Baca Juga:
https://beritajatim.com/pendidikan-kesehatan/ppni-surabaya-kerahkan-1-500-perawat-atasi-stunting/
Di Madiun, Pemkot Madiun sudah membentuk dan melakukan pembinaan bagi sekolah SSK. Setidaknya sudah ada 13 sekolah yang menjalankan program SSK tersebut. Harapannya, ke depan tidak ada lagi kasus pernikahan dini.
“Wali Kota Madiun getol mengajak Dinkes, Kemenag dan Dinas Pendidikan mempersiapkan anak-anak dan remaja melalui SSK agar para remaja ini paham dan bisa mempersiapkan kehidupan berumah tangga dan tidak menjadi catin yang gagal,” jelas Ketua TP PKK Kota Madiun Yuni Maidi.
Di sisi lain, Yuni berharap ada sinergitas yang terjalin dari berbagai pihak untuk memberikan pendampingan sekaligus sosialisasi kepada anak remaja. Mengingat, usia remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
“Semua pihak bisa mendampingi, memberikan sosialisasi dan pemahaman agar jangan sampai di Kota Madiun ini ada anak yang menikah dini karena masa pubertas,” harapnya. [ipl/ted]






