Lamongan (beritajatim.com) – Pelatih Persela Lamongan Bima Sakti mengaku mendapatkan banyak pengalaman baru sejak dipercaya menangani Laskar Joko Tingkir. Persela menjadi klub pertama yang ia latih setelah sebelumnya lebih lama berkecimpung sebagai pelatih Tim Nasional Indonesia di berbagai kelompok umur.
Dalam dua pekan awal menangani Persela, Bima merasakan perbedaan signifikan antara melatih tim nasional dan klub. Salah satu momen yang paling membekas baginya terjadi ketika Persela mampu meraih kemenangan meski harus bermain dengan sepuluh pemain.
“Saya jadi banyak belajar. Kemarin sepuluh pemain bisa menang itu saya juga kaget. Berarti yang hebat bukan saya, tapi pemain,” kata Bima Sakti, Selasa (13/1/2026).
Menurut Bima, kemenangan tersebut tidak lepas dari tekad dan kerja keras para pemain di lapangan. Ia pun memberikan apresiasi khusus kepada Adam Maulana dan rekan-rekannya yang dinilai menunjukkan semangat juang tinggi sepanjang pertandingan.
“Mereka mau kerja keras, mau fight. Saya respek sama Adam Maulana dan teman-teman. Dari situ saya belajar, berarti mereka bisa,” lanjutnya.
Selain soal teknis di lapangan, Bima Sakti juga merasakan tantangan berbeda saat melatih klub, terutama terkait proses perekrutan pemain. Pengalaman tersebut dinilainya jauh berbeda dibandingkan ketika menangani tim nasional.
“Kalau di timnas, tinggal pilih pemain terbaik, datang yang bagus-bagus semua. Kalau enggak cocok, ya tinggal ganti,” ujarnya sambil tersenyum.
Di level klub, menurut Bima, pelatih dituntut lebih realistis dan terlibat dalam perencanaan tim. Mulai dari mencari pemain pinjaman, menilai kebutuhan skuad, hingga menyesuaikan dengan kondisi finansial serta kebijakan manajemen.
“Kalau di sini, kalau nyari pemain kita harus rencanakan dengan baik, mana yang dipinjam, mana yang ini (direkrut permanen), masih dibutuhkan apa enggak, ada yang dipinjamkan, gitu. Itu sih tantangannya saya,” katanya.
Meski menghadapi sejumlah tantangan, Bima Sakti mengaku merasa nyaman berada di Persela. Pelatih berusia 49 tahun itu menilai suasana kekeluargaan dan komunikasi yang terbuka menjadi kekuatan tersendiri di dalam tim.
“Saya nyaman di sini. Pemain saling menghormati, semua mau kerja sama. Ofisial dan pengurus juga sering diskusi. Jadi saya tinggal menyampaikan kebutuhan tim, urusan negosiasi biar manajemen yang jalan,” ucapnya. [fak/beq]






