Mojokerto (beritajatim.com) – Pandemi Covid-19 berimbas pada hampir semua sektor mulai dari ekonomi, mobilitas dan kesehatan. Sektor ekonomi kian terpuruk dengan berbagai pembatasan-pembatasan kegiatan masyarakat, namun hal tersebut tidak berlaku bagi pengusaha konvensi di Mojokerto ini.
Dia adalah Frengkianto (33), warga Desa Brangkal, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Usaha konveksi hijab rumahan owner rfm_official di marketplace Shopee. Usaha ini tetap tumbuh di masa pandemi Covid-19. Dengan jumlah delapan karyawan, usaha tersebut mampu meraih omzet Rp 150 juta per bulan.
Berawal saat pandemi Covid-19 melanda dunia dan masuk ke Indonesia hingga Mojokerto, usaha meubel ikut terpukul. Ditambah banyaknya korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari sejumlah perusahaan yang ada di sekitar desanya, membuat bapak satu anak ini berpikir keras.
“Awal pandemi, sekitar bulan Mei 2020 saya mencoba usaha pembuatan masker dengan melibatkan tetangga sekitar yang kena PHK. Karena waktu itu, PKH banyak dilakukan perusahaan karena imbas Covid-19. Dengan modal Rp 10 juta saya memberikan ide ke teman-teman korban PHK,” ungkapnya, Sabtu (18/12/2021).
Yakni dengan membuat masker yang memang saat itu dibutuhkan masyarakat ketika keluar rumah. Sekitar 25 orang korban PHK di tiga kecamatan terdekat yakni Kecamatan Sooko, Puri dan Jatirejo, suami dari Rosida (25) ini pun mulai usahanya. Ia hanya memberikan bahan dan memasarkannya.
“Iya dibawa pulang, saya jadi koordinator. Saya kasih bahan, teman-teman yang mengerjakan. Dibawa pulang, dijahit di rumah karena alat jahit dari mereka sendiri. Setelah selesai dijahit disetor, kemudian saya pasarkan. Ya di-posting di medsos, banyak yang pesan,” katanya.
Pemasaran selain melayani reseller yang datang ke rumah, masker alumni Universitas Mayjen Sungkono Kota Mojokerto jurusan Hukum ini juga dikirim ke luar kota, bahkan hingga luar Pulau Jawa, seperti Aceh. Jenis masker pun mengikuti trend dan aturan pemerintah. Mulai masker kain, masker bahan spunbond hingga masker custom.
“Saat itu, masker spunbond saya jual Rp 40 ribu per lusin. Kemudian aturan dari pemerintah soal masker mulai turun, daya beli masyarakat turun, saya beralih ke masker kain yang bisa dicuci. Saat itu, saya dapat pesanan dari pabrik besar di Gresik sebanyak 50 ribu masker,” tuturnya.
Jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di sejumlah kabupaten/kota di akhir 2020, dia memanfaatkan dengan membuat masker custom yakni masker yang biasa dicetak gambar sesuai keinginan. Masker custom buatan Frengky dilirik Bawaslu Nusa Tenggara Timur (NTT). Usahanya pun berkembang hingga Desember 2020.
“Saya bersyukur di tengah pandemi banyak UKM tutup, saya waktu itu berkembang. Meski banyak yang tidak suka karena saya memanfaatkan pandemi, namun saya mengajak teman-teman korban PHK untuk bergabung. Saya mencoba merambah ke usaha yang lain, yakni dunia perumahan dan pemukiman,” ujarnya.
Melalui teman yang baru dikenal, ia memberanikan diri investasi sebesar Rp 46 juta dengan perjanjian selain investasi uang juga memberdayakan korban PHK yang sebelumnya di usaha pembuatan masker. Mereka akan dilibatkan dalam pembangunan perumahan yang dijanjikan warga Pandaan, Kabupaten Pasuruan tersebut.
“Inilah kondisi terburuk saya. Ternyata saya kena tipu Rp 46 juta. Saya kenal orang Pandaan diajak bisnis perumahan, katanya proyeknya di Ngoro. Saya diajak investasi uang dan teman-teman saya yang sebelumnya jahit masker diajak sebagai tukang di pembangunan perumahan itu. Tapi setelah uang diterima, dia menghilang,” cetusnya.
Awal tahun 2021 menjadi waktu yang berat bagi Frengky untuk mengikhlaskan. Namun dengan berat hati ia melupakan peristiwa itu dan memilih untuk kembali berjuang agar bisa bertahan di tengah pandemi Covid-19. Ia bersama istri dan satu karyawan yang masih bertahan memilih konveksi hijab sebagai bidang garapan.
“Saya drop banget, tidak bisa makan. Saya katakan bangkrut saat itu, semua saja jual, tidak bisa membeli pampers untuk anak saya. Dan akhirnya saya berpikir kalau saya terus menyesali yang kemarin, ya mestinya harus melangkah ke depan. Sehingga kami bertiga, saya, istri dan satu karyawan yang masih setia bikin usaha hijab ini,” tuturnya.
Usaha hijab milik Frengky telah dipesan di berbagai belahan Indonesia. Bahkan sempat masuk ke Malaysia. Usahanya kini berkembang, terbantu dengan platform marketplace atau e-commerce. Usahanya memiliki omzet antara Rp130 juta sampai Rp150 juta setiap bulannya. Dia mampu menjual antara 30-40 ribu item per bulan.
[berita-terkait number=”5″ tag=”masker”]
“Sampai saat ini, ada delapan karyawan dengan omzet Rp 150 juta per bulan. Kalau modelnya cuma satu, segi empat. Tidak ada toko, saya jual di marketplace, harganya Rp 10.800 per item. Untuk masker sudah tidak lagi karena saya fokus di hijab sekarang, meski sebelumnya juga pernah di usaha peti jenazah,” ujarnya.
Ini lantaran Frengky sebelumnya mewarisi bisnis keluarga, yakni meubel. Melalui kerja sama dengan rumah sakit swasta di Kabupaten Mojokerto dan relawan, usaha tersebut hanya digeluti selama satu bulan dengan total peti jenazah yang diproduksi 70 unit.
“Meubel ya tetap ada meski sepi, namun saya selalu ingin memcoba usaha baru yang bisa memberdayakan banyak karyawan. Selanjutnya juga ingin usaha lain, namun yang membuat saya bisa seperti ini karena pengalaman ditipu itu. Itu benar-benar membuat saya bangkrut,” kenangnya. [tin/suf]









